Friday, May 5, 2017

Teori Standpoint

Teori Standpoint  (Sumber: Griffin 2009)   

Standpoint Theory adalah teori gender yang dicetuskan oleh Sandra Harding dan Julia T Wood. Premis utama teori ini menjelaskan tentang standpoint atau bisa juga dikatakan perspektif, posisi, viewpoint, atau outlook yang melekat pada diri seseorang. Standpoint Theory menegaskan bahwa jika kita ingin mengetahui dunia, maka salah satu caranya adalah memahami standpoint perempuan atau kaum marginal lainnya. Sandra Harding dan Julia T Wood juga mengklaim bahwa kelompok-kelompok sosial dimana kita berinteraksi atau tinggal sangat mempengaruhi pengalaman dan pengetahuan kita, termasuk bagaimana kita memahami dan berkomunikasi dengan diri sendiri, orang lain, dan juga dunia. 

Selanjutnya, Teori standpoint menegaskan bahwa kita dapat menggunakan ketidaksetaraan gender, ras, kelas, dan orientasi seksual untuk mengamati dan meneliti bahwa perbedaan kelas sosial akan menghasilkan sesuatu yang khas dalam hubungan sosial. Lebih khusus, Harding mengatakan bahwa ketika kita berbicara dengan orang dengan kekuasaan yang tidak sama, dapat terjadi perbedaan sudut pandang. Perspektif dari kaum marginal akan lebih objektif dibandingkan dengan kaum yang memiliki kuasa.

Ilustrasi Bahwa Stanpoint Seorang Feminist Berakar pada Filosofi dan Literatur. Seorang filosof German, Georg Hegel menganalisis hubungan antara majikan-budak untuk menunjukkan bahwa apa yang orang tahu tentang diri mereka, orang lain, dan masyarakat akan sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka berada saat itu. Majikan dan budak akan memiliki perspektif yang berbeda meskipun mereka berada pada situasi atau realitas yang sama. Namun, ketika “para tuan” membangun struktur masyarakat, mereka memiliki kuasa untuk membuat perspektif yang mereka miliki dianut oleh orang orang dari kaum yang lain.

Selanjutnya, Harding menjelaskan bahwa standpoint theory adalah teori yang sejalan dengan konsep Marxian dengan mengganti perempuan untuk kaum proletar dan diskriminasi gender untuk “class struggle” atau perjuangan kelas. Wood menyatakan bahwa gender adalah sebuah konstruksi budaya daripada sebuah karakteristik biologi. Gender adalah sebuah sistem makna yang membentuk standpoint individu berdasarkan posisi perempuan dan laki laki dalam berbagai materi yang berbeda, soail dan juga keadaan umum yang simbolis. Selanjutnya, standpoint theory juga berkaitan dengan pandangan posmodernisme. Salah satunya ketika Jean-Francois mengumumkan tentang ketidakpercayaan terhadap metanarratives. Penjelasan ini menunjukan bahwa Harding dan Wood berinteraksi sangat kuat dengan konsep konsep sebelumnya seperti Marxian, atau Posmodernisme tetapi tidak membiarkan ide atau konsep standpoint theory mereka terpengaruh dengan konsep konsep tersebut.

Perempuan Sebagai Kelompok Marginal. Teori standpoint melihat perbedaan penting antara laki laki dan perempuan. Wood menggunakan teori relational dialectic tentang autonomy connectedness. Bahwa laki-laki dianggap lebih otonom sementara perempuan dianggap lebih suka membangun hubungan dengan orang lain. Perbedaan ini terbukti dalam komunikasi kelompok, bahwa kelompok laki-laki menggunakan percakapan untuk menyelesaikan tugas, sementara kelompok perempuan menggunakan percakapan untuk membangun sebuah hubungan termasuk memperlihatkan kepedulian. Melanjutkan hal ini, Wood mengatakan bahwa realitas seperti yang terjadi diatas sering kita temukan pada setiap lingkungan masyarakat. Sebuah budaya tidak terjadi tiba tiba pada setiap angota kelompok. Budaya adalah hirarki yang terjadi secara berurutan. Teori standpoint juga menyatakan bahwa perempuan kurang beruntung, sementara laki-laki sangat beruntung dan pada akhirnya perbedaan gender melahirkan sebuah perbedaan yang sangat besar. 

Harding dan Wood menyatakan bahwa tidak semua perempuan memiliki standpoint yang sama. Disamping isu gender, Harding juga menekankan bahwa kondisi ekonomi, ras, dan orientasi seksual adalah tambahan identitas budaya yang dapat membawa seseorang ke tengah tengah masyarakat atau justru mengucilkan mereka dari lingkungannya. Standpoint theory pada akhirnya juga dapat menjelaskan posisi posisi marginal seperti kaum lesbian. Standpoint theory juga menekankan pentingnya lokasi sosial untuk meyakinkan bagaimana pemegang kuasa memiliki hak istimewa untuk mendefinisikan tentang perempuan, laki-laki, atau apapun yang berkaitan dengan kebudayaan.

Knowledge From Nowhere Versus Local Knowledge. Harding berargumen bahwa kelompok sosial yang mendapat kesempatan untuk mendefinisikan masalah masalah, konsep, asumsi dan hipotesis penting tentang sebuah subjek akan meninggalkan jejak sosial atau sejarah dalam bentuk sebuah penelitian dibidang tersebut. Harding dan ahli teori standpoint lain menekankan bahwa tidak ada kemungkinan perspektif yang tidak bias yang tertarik, berimbang, bebas nilai, atau terpisah dari sebuah situasi bersejarah. Selanjutnya, baik ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan sosial selalu saja bergantung pada situasi dan waktu. Pada intinya, knowledge from nowhere berbanding terbalik dengan local knowledge. Bahwa local knowledge bergantung pada situasi dan waktu, sementara knowledge from nowhere bersifat bebas nilai. 

Kekuatan Objektivitas: Tinjauan Lebih Parsial dari Standpoint Perempuan. Harding menggunakan konsep strong objectiviness untuk melihat strategi mengawali penelitian tentang kehidupan perempuan dan kaum marginal lain dimana kepentingan dan pengalaman perempuan serta kaum marginal tersebut diabaikan. Dalam hal ini, standpoint theory dikatakan dapat memberikan perspektif secara lebih menyeluruh dibandingkan dengan perspektif yang dimiliki laki-laki. Ada dua alasan mengapa harding mengatakan demikian. Pertama, karena perempuan yang berada diposisi subordinat memiliki motivasi yang lebih besar untuk mengerti perspektif dari orang-orang dengan kekuasaan yang lebih tinggi. Kedua, bahwa kelompok kelompok marginal biasanya memiliki sedikit alasan untuk mempertahankan status quo. 

Dari Teori Ke Praktek: Riset Komunikasi Berdasarkan Kehidupan Perempuan. Jika kita ingin melihat model riset komunikasi yang dimulai dari kehidupan perempuan, maka tempat yang tepat untuk mengetahuinya adalah pada studi Julia T Wood tentang caregiving di Amerika Serikat. Sejalan dengan teori standpoint, bahwa pengetahuan tergantung pada situasi dan kondisi. Wood mendeskripsikan dirinya sebagai seorang kulit putih, heteroseksual, perempuan profesional yang memiliki tanggungjawab untuk mengurus kedua orangtuanya. Wood kemudian melihat bahwa praktek komunikasi gender mereflkesikan dan sekaligus memaksakan tentang harapan sosial “social expectation” bahwa caregiving adalah pekerjaan perempuan. 

Wood mengatakan bahwa kebudayaan tentang caregiving sebagai pekerjaan perempuan harus diubah dengan cara menjauhkan penggunaan istilah caregiving hanya dengan afiliasi pada perempuan saja. Tak hanya itu, Wood juga mengatakan bahwa perlunya pendefinisian kembali dan penekanan kepada masyarakat bahwa caregiving adalah tanggungjawab semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.

Gagasan Standpoint Pada Feminist Kulit Hitam. Patricia Hill Collins, seorang sosiologi African-American mengklaim bahwa prinsip “intersecting oppressions” berkaitan dengan perempuan kulit hitam di Amerika Serikat yang pernah mengalami masa pada tempat marginal dibandingkan dengan perempuan kulit putih ataupun laki-laki kulit hitam. Kaitannya dengan stanpoint theory adalah kondisi sosial atau latar balakang sosial akan mempengaruhi marginal atau tidaknya suatu kaum.

Kritik Pada Teori Standpoint. Ada beberapa kritik yang diberikan untuk teori standpoint. Pertama, adalah kritik dari feminist seperti Susan Hekman dan Nancy Hirschmann yang fokus pada pernyataan Harding. Menurut mereka, standpoint theory mengabaikan aturan bahwa bahasa bermain pada ekspresi perasaan dalam diri dan sudut pandang dari dunia. Kritik ini dilanjutkan bahwa pilihan orang orang untuk berkomunikasi tidak akan pernah netral dan bebas nilai, jadi standpoint tidak dapat terlihat dari cara mereka berbahasa. Kedua, kritik yang berkaitan dengan kekuatan objektivitas yang menurut kritikusnya adalah sesuatu yang kontradiktoris. Jika ditinjau dari konsep postmodernis, standpoint theory mengatakan bahwa standpoint adalah sesuatu yang relatif dan tidak dapat dievaluasi dengan ketentuan yang pasti atau kriteria mutlak. Sementara disisi yang lain, Harding dan Wood justru mengatakan bahwa  perspektif perempuan lebih bebas nilai daripada perspektif kaum yang lebih terhormat misalnya laki-laki.

Ilustrasi. Berkaitan dengan standpoint perempuan. Penulis pernah berkenalan dengan perempuan korban kekerasan seksual. Ia bernama B yang sedang menempuh pendidikan menengah atas di Yogyakarta. Sebelumnya, B terkenal sebagai anak yang periang dan banyak bergaul dengan masyarakat. Namun, ketika peristiwa perkosaan itu terjadi, seketika dunianya berubah dari perempuan aktif menjadi perempuan yang berdiam diri dalam kamar. Saat bercakap dengan B, penulis menanyakan tentang perubahan dalam diri yang menurutnya terjadi dengan drastis. B menjawab bahwa ada perasaan rendah diri yang menyelimuti pikirannya sehingga membuatnya enggan untuk bergabung dengan teman sebayanya. Stanpoint dalam  ilustrasi ini terletak pada definisi B tentang dirinya sendiri sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku yang ditunjukkan kepada masyarakat sekitar. Standpoint dapat berbeda-beda untuk setiap individu. Misalnya standpoint perempuan yang tumbuh dalam keluarga harmonis dan penuh kelembutan akan berbeda dengan standpoint perempuan yang tumbuh dalam lingkungan kasar dan berat. Dalam hal ini, standpoint perempuan dan laki-laki jelas jelas akan berbeda oleh karena adanya perbedaan latar belakang tertentu. 
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Featured Post

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah teori yang menjelaskan bagaimana suatu perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) menceritakan bahwa ri...