Friday, May 5, 2017

Teori Silent Communication

Teori Silent Communication (Sumber: Griffin 2009)

Teori silent communication dapat disebut dengan teori spiral of silence. Teori ini digagas oleh Elisabeth Noelle Neumann. Ia mengklaim bahwa apa yang menjadi pilihan politik seseorang akan sangat berkaitan erat dengan indikator kemungkinan yang akan terjadi dalam waktu dekat. Teori spiral of silence adalah teori yang menjelaskan tentang perkembangan dan penyebaran opini publik. Pada intinya, konsep spiral of silence menyatakan bahwa orang orang akan merasa tertekan ketika mereka berpikir bahwa mereka berada pada kelompok minoritas.

Beberapa poin penting dalam teori ini. PertamaA Quasi Statistical Organ Sensing The Climate Of Opinion, bahwa sebuah angka statistik akan mempengaruhi puncak opini. Elisabeth Noelle Neumann sangat kagum dengan upaya orang orang untuk melihat puncak opini publik. A Quasi Statistical Organ Sensing The Climate Of Opinion adalah sixth sense atau sebuah kekuatan memprediksi tentang apa yang dipikirkan oleh publik secara umum. Nilai statistik dalam hal ini adalah sesuatu yang mempengaruhi opini publik.

Kedua; Ketakutan akan terisolasi. Poin ini menyatakan bahwa meskipun seseorang berada pada posisi opini yang berbeda, tetapi ia akan mengikuti opini kelompok mayoritas. Hal ini dilakukan agar ia tidak terisolasi dari lingkungannya.

Ketiga; Ada saat bicara, ada saatnya diam. Karena orang-orang menjelaskan bahwa pilihan mereka untuk diam merupakan sebuah upaya untuk mencegah terisolasinya mereka dari lingkungan, maka Neumann menyatakan bahwa individu yang mengetahui bahwa opini mereka mulai menyebar satu persatu akan memilih untuk menyebarkan opininya sendiri. Sementara bagi individu yang merasa bahwa pendapatnya hanya diketahui oleh dirinya sendiri akan memilih menyimpan opini tersebut dalam dirinya dan memilih diam. Dalam artian, individu memiliki alasan tersendiri, kapan mereka harus diam atau kapan mereka harus menyuarakan opininya.

Selanjutnya, posisi individu dalam penyebaran spiral of silence. Konsep spiral of silence menggambarkan bahwa kaum minoritas yang memilih diam berada pada urutan terbawah. Kelompok-kelompok yang berada pada spiral paling bawah adalah kelompok-kelompok atau individu yang memiliki ketakutan terisolasi dari lingkungannya. 

Berikutnya adalah kritik terhadap teori spiral of silence. Beberapa premis dari teori spiral of silence mendapat tanggapan dari akademisi. Salah satunya tanggapan terkait asumsi bahwa ketakutan terisoloasi menjadi alasan seseorang memilih untuk diam adalah sebuah asumsi yang didasarkan pada ketakutan individu terhadap isolasi itu sendiri, dan belum merupakan asumsi yang dibangun berdasarkan hasil survey intensif pada pertanyaan perbandingan bagaimana perasaan individu tersebut pada saat ia diam dan pada saat ia memilih untuk bersuara. Artinya, asumsi spiral of silence masih perlu diuji lagi dengan melakukan perbandingan antara keadaan individu saat memilih untuk diam seperti apa, lalu saat individu tersebut memilih untuk menyuarakan opininya seperti apa.

Ilustrasi. Agar lebih memahami teori ini, penulis memberikan sedikit ilustrasi. Salah satu fakta yang pernah penulis alami langsung adalah ketika terlibat dalam gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta. Jika dibandingkan pada masa dahulu, yang jauh sebelum hari ini, tingkat pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan dilingkungan tempat penulis bekerja sangatlah jauh berbeda. Tahun-tahun belakangan tercatat lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. 

Terkait hal diatas, ada dua asumsi yang dapat menjelaskan maraknya pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta tersebut. Pertama bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan semakin bertambah, atau kedua bahwa pada dasarnya jumlah kasusnya tidak berubah, yang berubah adalah karakter masyarakat yang mulai keluar dari kebisuan yang selama ini dilakukan. Jika dulu, seorang perempuan memilih untuk menyimpan kesakitannya sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga, maka saat ini kebisuan itu mulai terurai satu persatu sehingga sikap untuk menyuarakan opini individu yang selama ini dipendam mulai muncul ke permukaan.

Data kasus kekerasan menunjukkan bahwa tingkat pengaduan terkait kekerasan terhadap perempuan semakin hari semakin bertambah. Jika menggunakan asumsi kedua yang telah penulis sampaikan sebelumnya, bahwa kemungkinan semakin maraknya pelaporan tersebut disebabkan bahwa adanya opini yang dulunya terpendam yang saat ini muncul ke permukaan. Hal ini dikarenakan salah satunya oleh perihal kekerasan terhadap perempuan dulunya dianggap sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Tak hanya itu, perempuan korban kekerasan dan masyarakat pada umumnya mengagap bahwa tindak kekerasan terhadap perempuan adalah sebuah aib yang harus ditutupi agar perempuan korban tersebut tidak disisihkan atau dikucilkan dari lingkungannya. Artinya, fenomena ini dapat dijelaskan dengan teori spiral of sience. 

Asumsi selanjutnya bahwa individu atau kelompok yang termasuk dalam spiral of silence ini pada dasarnya mempunyai pilihan kapan mereka harus diam dan kapan mereka harus bicara. Dalam kasus kekerasan yang telah penulis paparkan, tindakan melaporkan kasus kekerasan yang terlihat dari data statistik tersebut merupakan sebuah upaya untuk menyuarakan opini yang bisa saja selama ini telah terpendam. Bisa jadi bahwa individu korban kekerasan yang dulunya menjadi minoritas dan terisolasi dari lingkungan telah merasa bahwa sudah saatnya mereka melaporkan atau mengatakan apa yang selama ini mereka rasakan. 
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Featured Post

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah teori yang menjelaskan bagaimana suatu perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) menceritakan bahwa ri...