Friday, May 5, 2017

Teori Muted Communication

Teori Muted Communciation (Sumber: Griffin 2009)

Salah satu ahli yang fokus dalam teori ini adalah Cheris Kramarae yang menyatakan dan mempertahankan bahwa bahasa adalah hasil konstruksi laki-laki. Berdasarkan premis Cheris Kramarae diatas, dapat dikatakan bahwa bahasa perempuan adalah sesuatu yang diabaikan dalam masyarakat, atau dengan kata lain, bahasa perempuan adalah sesuatu yang tidak bernilai. Ketika perempuan mencoba mengatasi ketimpangan tersebut, kontrol komunikasi laki-laki pada akhirnya menempatkan perempuan pada tempat yang sangat tidak diharapkan. Perempuan menurut teori ini adalah kelompok yang diredam, atau dibungkam. 

Lebih lanjut, sebuah survey singkat dilakukan terkait penggunaan seni kartun, bahwa dari sejumlah 52 kartun, hanya ada 20 kartun berkarakter perempuan, selebihnya adalah kartun berkarakter laki-laki. Tipe dominasi laki-laki ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cara untuk menunjukkan bahwa perempuan tidak bernilai dalam masyarakat. Selama kurang lebih 25 tahun, Cheris Kramarae memimpin upaya untuk menjelaskan dan mengubah status pembungkaman perempuan. 

Kelompok Terbungkam: Sebuah Black Hole dibelahan Dunia. Pada dasarnya, pendapat bahwa perempuan adalah kelompok yang dibungkam pertama kali disampaikan oleh sosiolog Oxford University, Edwin Ardener. Ia mengatakan bahwa ketidakpedulian terhadap pengalaman perempuan adalah sebuah masalah gender dalam sosial antropologi. Selanjutnya, Ardener mulai menyadari bahwa kebungkaman kaum perempuan terjadi karena kurangnya kekuasaan. Ardener menyatakan bahwa muted communication tidaklah selamanya berarti silent atau diam. Intinya adalah, apakah orang orang dapat mengatakan apa yang mereka ingin katakan kapan dan dimana mereka ingin mengatakan hal itu, dengan kata lain mereka juga perlu menafsirkan kembali atau reencode pikiran-pikiran mereka agar mereka mengerti. Ardener menambahkan bahwa apa yang dimiliki laki-laki untuk dapat berbicara secara langsung dan mengekspresikan diri diruang publik adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh perempuan. 

Kuasa Maskulin untuk Menamai Pengalaman. Kramarae memulai teorinya dengan asumsi bahwa perempuan memandang dunia secara berbeda dari laki-laki karena adanya perbedaan pengalaman dan aktivitas yang berasal dari pembagian kerja. Kramarae memastikan bahwa perbedaan kekuasaan antara jenis kelamin menyebabkan perempuan melihat dunia secara berbeda dari laki-laki. Seringkali pengalaman perempuan diungkapkan setelah terlebih dahulu melewati sensor laki-laki. Padahal, saling pengertian akan terbentuk jika dilakukan diskusi lebih lanjut. Laki-laki lebih dominan karena dominasi politik yang pada akhirnya membungkam kebebasan perempuan.

Laki-laki Adalah Gatekeepers Komunikasi. Kramarae melihat bahwa tradisional mainstream adalah ekspresi dari komunikasi yang malestream, artinya, laki-laki adalah gatekeepers atau penentu sesuatu yang pada akhirnya menjadi mainstream di masyarakat. Ia melihat fakta, bahwa perempuan tidak mendapat tempat dalam industri puisi, film, dan lain sebagainya. Salah satu contoh bahwa laki-laki memiliki kontrol dalam rekam jejak publik terlihat dari cerita yang disampaikan Kramarae tentang pilihannya untuk mengganti namanya ketika ia menikah di Ohio yang mengharuskan perempuan mengganti namanya dengan menyematkan nama suaminya. Saat itu Kramarae harus mengganti nama dari Cheris Kramarae menjadi Cheris Rae Kramer. Ketika aturan berganti dan dibolehkannya perempuan yang telah menikah memiliki nama aslinya sendiri, Kramarae kembali mengganti namanya meski banyak dipertanyakan oleh orang orang disekitarnya. Menanggapi hal tersebut Kramarae menjawab bahwa penggunaan nama suami dalam nama perempuan yang telah menikah adalah sebuah pengistimewaan yang berlebihan kepada laki-laki.

The Unfulfilled Promise of The Internet. Kita mungkin berasumsi bahwa kemunculan internet telah merubah realitas dan pandangan terkait laki-laki sebagai penentu sesuatu yang mainstream. Kramarae mengatakan bahwa itu tidak terjadi. Ada beberapa kiasan yang dapat diperhatikan untuk memahami hal tersebut. Pertama, informasi superhighway, bahwa sulit bagi perempuan untuk mengakses pelayanan internet. Bagi perempuan, informasi yang ada di internet hanya didesain untuk kepentingan laki-laki semata. Kedua, New Frontier, bahwa perempuan menjadi pihak yang harus berhati hati dalam penggunaan teknologi internet, dari segi keamanan misalnya, kadang-kadang perempuan harus menggunakan identitas sebagai laki-laki untuk mendapatkan keamanan berinternet. Ketiga, demokrasi. Dalam hal ini, perempuan menjadi pihak yang diuntungkan karena dapat memberikan komentar dan tanggapan atas sebuah ide diinternet dengan akun anonim yang tidak akan mengganggu rasa aman dari para perempuan. Keempat, komunitas global, bahwa melalui internet perempuan dapat terkoneksi dan berbagai pengalaman dengan orang lain diseluruh dunia. Koneksi global tercipta, komunitas global terbentuk, tetapi laki-laki justru memanfaatkan hal tersebut dengan membuat situs khusus perempuan agar mendapat kepercayaan dari perempuan.

Kebenaran Perempuan dalam Dunia Laki-Laki. Terkait hal ini, Kramarae mengatakan bahwa perempuan harus berbicara dalam bahasa kedua. Artinya, dalam rangka mendapatkan tempat untuk partisipasi sosial, perempuan harus menggunakan model percakapan/bahasa laki-laki agar dapat dipahami oleh sosial itu sendiri. “Like speaking in a second language”. Hal ini menuntut sebuah upaya yang konstan dari perempuan agar apa yang dikatakan dapat dimengerti sesuai dengan makna yang diinginkan oleh perempuan itu sendiri.

Speaking Out in Privat; Networking With Women. Kramarae menyatakan bahwa perempuan selalu mencari cara untuk mengekspresikan diri mereka kepada publik yang didominasi oleh laki-laki, baik melalui komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal. Kramarae mencatat, beberapa hal yang biasanya digunakan perempuan untuk mengekspresikan dirinya adalah melalui diari, surat, gossip, puisi, dongeng, ataupun lagu. 

Speaking Out in Public: A Feminist Dictionary. Seperti konsep lain dari teori kritis, teori feminis tidak dimaksudkan untuk menentang keuasaan. Tujuan utama dari teori muted communication ini adalah untuk merubah pola atau sistem bahasa laki-laki yang menempatkan perempuan “in their place” atau memposisikan perempuan hanya berjalan ditempat saja. Kramarae menilai bahwa perlu dilakukan pendokumentasian bahasa yang berpihak kepada perempuan. Misalnya dengan menerbitkan kompilasi kamus feminis yang menawarkan definisi kata-kata yang berkaitan dengan perempuan. 

Pelecehan seksual, sebuah labeling. Kramarae mengatakan bahwa pelecehan seksual sudah merajalela tetapi tidak terjadi secara acak. Pelecehan seksual terjadi karena perempuan tidak memiliki kuasa. Kramarae memberi contoh seorang mahasiwi yang menjadi korban pelecehan seksual oleh orang yang berpengaruh di fakultasnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika ia meminta klarifikasi kepada profesor di fakultas tersebut, profesornya mengalihkan percakapan dengan mengatakan bahwa perempuan tersebut adalah mahasiswa yang tidak profesional dalam tugas dan pekerjaan yang diberikan sang Profesor. Sebagai korban, perempuan tersebut pada akhirnya mengalami kebingungan atas apa yang dialaminya. Muted Communication Theory melihat secara lebih detail apa alasan kebingungan perempuan tersebut, kemudian membahasakannya kepada masyarakat agar mudah dimengerti.

Kritik Teori Muted Communication. Para pakar feminis berpikir bahwa kunci-kunci komunikasi seperti ritual ritual, metafora metafora, dan juga kisah kisah perempuan adalah sebuah hal penting yang dapat menjadi data dalam penelitian. Dalam teori Muted Communication, Kramarae mengklaim bahwa kekuasaan adalah hal yang paling penting dalam hubungan antar manusia. Selanjutnya, bahwa kekuasaan berimplikasi pada kontrol laki-laki terhadap perempuan. Asumsi ini mendapat tanggapan dari Deborah Tannen yang mengkritik premis bahwa laki-laki berusaha mengontrol kaum perempuan.

Menurut Tannen, permasalahan utama dalam perbedaan gaya komunikasi laki laki dan perempuan yang kadang-kadang menimbulkan ketidaksetaraan adalah terletak pada perbedaan laki-laki dan perempuan itu sendiri. Artinya, tidak ada alasan yang dapat digunakan untuk menyalahkan kekuasaan, jabatan, atau apapun karena tidak bisa dipungkiri, banyak hal yang ternyata melalui kekuasaan atau jabatan tersebut justru mensupport prinsip prinsip gender, ras atau hak asasi manusia lainnya. Respon kita terhadap teori muted communication akan sangat bergantung pada apakah kita mendapatkan manfaat atau tidak.

Ilustrasi. Ketika memahami teori muted communication, penulis teringat salah satu kasus yang pernah terjadi di masyarakat adat daerah Yogyakarta. Bahwa ketika terjadi kekerasan seksual di desa tersebut, adat yang digunakan adalah adat masyarakat setempat yang tidak perlu diproses ke ranah hukum. Pengalaman penulis dalam sebuah penelitian mengungkap suatu fakta bahwa muted communication memang benar benar terjadi. Seorang perempuan korban kekerasan seksual pada akhirnya tidak dapat berbuat apa apa dan tidak dapat meminta pertanggungjawaban atas apa yang dialaminya karena adat masyarakat setempat tidak memandang perihal kekerasan seksual sebagai sesuatu yang melanggar hukum.

Sebut saja A. Seorang remaja berusia belasan yang menjadi korban perkosaan oleh tetangganya. Karena tidak memiliki kekuasaan, perempuan tersebut harus menerima dengan legowo ketika kasus yang menimpanya berhenti sampai pada urusan keluarga saja. Bentuk penyelesaian kasus tersebut adalah dengan ganti rugi dengan sejumlah uang. Ketika penulis mewawancarai perempuan korban ini, ia mengatakan bahwa pada dasarnya ia dan keluarganya ingin melanjutkan perkara tersebut pada ranah hukum, tetapi tokoh adat dan tetuah masyarakat setempat mengatakan bahwa kasus perkosaan oleh sesama warga didesa tersebut tidak perlu dilaporkan karena akan merusak nama baik desa itu sendiri. Melihat fakta demikian, penulis pada akhirnya menyadari bahwa muted communication benar benar terjadi di masyarakat. Perempuan dibungkam karena ia tidak memiliki kuasa, bahkan atas dirinya sendiri.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Featured Post

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah teori yang menjelaskan bagaimana suatu perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) menceritakan bahwa ri...