Friday, May 5, 2017

Teori Mass Deception

Mass Deception
Deception adalah salah satu strategi yang sering digunakan oleh negosiator untuk mendapatkan kepatuhan orang lain dan untuk memaksimalkan keuntungan mereka sendiri (Lewicky dan Robinson 1998; Triandis 2001 dalam Zhou, L., Sung, Y., & Zhang, D. 2013). Jika dikaitkan dengan mass deception maka deception yang dimaksud adalah deception yang dilakukan pada khalayak massa. Salah satu contohnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Lina et all (2013). Mereka meneliti tentang deception dalam grup negosiasi online yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi bagaimana penipuan tersebut dilakukan sehingga mempengaruhi pengambilan keputusan pada audiens grup online itu sendiri. 

Dua faktor tersebut adalah pengalaman deception dan keterampilan deception. Hasil riset menunjukan bahwa yang memiliki pengaruh positif terhadap pengambilan keputusan adalah keterampilan deception sementara pengalaman deception menghasilkan pengaruh negatif. Penelitian tersebut pada awalnya memiliki asumsi bahwa pengalaman deception akan memberikan hasil positif terhadap pengaruh pengambilan keputusan karena pengalaman deception pada akhirnya berkaitan erat dengan adanya proses belajar dari negosiator/komunikator. Tetapi, ternyata asumsi tersebut terpatahkan karena yang justru memberikan hasil positif dalam pengambilan keputusan audiens dalam proses deception itu adalah justru dari keterampilan deception, yakni deception yang dibangun berdasarkan strategi tertentu yang berkaitan juga dengan tingkat kredibilitas negosiator atau komunikator.

Sejalan dengan hal tersebut, Theodor Adorno and Max Horkheimer (1944) juga dalam tulisan mereka dengan judul The Culture Industry: Enlighment as a Mass Deception, mengulas bahwa deception berusaha menunjukan kepada audiens bahwa apa yang mereka lihat adalah yang benar-benar mereka butuhkan.

Berdasarkan konsep deception diatas, penulis mengambil contoh dalam penggunaan media massa online. Telah dijelaskan bahwa audiens dihadapkan pada informasi yang dibuat seolah olah bahwa informasi tersebut adalah informasi yang benar-benar mereka butuhkan, meskipun didalamnya terdapat unsur rekayasa/deception yang bertujuan agar negosiator atau komunikator mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam hal ini, negosiator/komunikator melalui kontennya menjalankan apa yang kita sebut dengan deception. Misalnya iklan produk kecantikan. Melalui iklan, komunikator produk berusaha menampilkan konten yang seakan-akan dibutuhkan oleh audiens yang diharapkan berujung pada pembelian produk kecantikan itu sendiri. Kaitan yang terpenting dalma hal ini berdasarkan hasil analisis dari penelitian yang dijelaskan sebelumnya bahwa ada unsur kredibilitas komunikator atau negosiator yang mempengaruhi pengambilan keputusan audiens. Dalam hal ini contoh yang penulis sampaikan jelas berkaitan dengan identitas media online yang menyebarkan konten tersebut. 

Referensi
Zhou, L., Sung, Y., & Zhang, D. (2013). Deception performance in online group negotiation and decision making: The effects of deception experience and deception skill. Group Decision and Negotiation, 22(1), 153-172. doi:http://dx.doi.org/10.1007/s10726-012-9303-9
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Featured Post

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah teori yang menjelaskan bagaimana suatu perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) menceritakan bahwa ri...