Friday, May 5, 2017

Teori Junk Culture

Junk Culture
Ditinjau secara etimologi berarti junk; rongsokan/sampah dan culture; budaya, secara singkat junk culture dipahami sebagai budaya sampah atau budaya rongsokan. (Giles 2003) menjelaskan bahwa junk culture adalah budaya berbahaya, jauh dari intelektualisme. Budaya ini jika di konsumsi akan memiliki resiko pengurangan tingkat kedewasaan dari dewasa menjadi anak anak usia 11 tahunan. Junk culture juga menghambat otonomi, dan independensi pertumbuhan individu.

Ryan & Deci (2006) menulis tentang otonomi seseorang sebagai kemampuan mengendalikan diri, atau self regulation. Manfaat otonom terhadap regulasi dikendalikan untuk kinerja tujuan, ketekunan, pengalaman afektif, kualitas hubungan, dan kesejahteraan seluruh domain dan budaya. Otonomi juga dikaitkan dengan proses penentuan nasib sendiri, dalam arti yang sempit dapat dicontohkan dalam hal pengambilan keputusan atas beberapa pilihan yang sedang dihadapi. Otonomi juga berkaitan dengan pilihan seseorang tentang akan bergabung/tidaknya dia dalam hiruk pikuk tertentu.

Dengan demikian , junk culture adalah budaya yang menghambat otonomi/kemandirian seseorang. Dalam hal ini, seorang individu akan kehilangan otonomi ketika dihadapkan pada junk culture. Dalam bahasa penulis, junk culture dapat membuat seseorang ikut-ikutan pada budaya tertentu tanpa proses seleksi yang panjang karena faktor kemandirian yang rendah.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Featured Post

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah teori yang menjelaskan bagaimana suatu perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) menceritakan bahwa ri...