Friday, May 5, 2017

Teori Genderlect

Teori Genderlect (Sumber: Griffin 2009)

Genderlect theory atau biasa dikenal dengan genderlect style adalah salah satu teori gender yang melihat perbedaan antara laki laki dan perempuan berdasarkan perbedaan budaya. Deborah Tannen adalah pencetus teori ini. Ia merupakan Profesor Linguistik dari Georgetown University yang lebih khusus meneliti tentang gaya percakapan (conversational style). Tannen tidak meneliti tentang apa yang dikatakan oleh seseorang ketika bercakap, tetapi ia meneliti tentang bagaimana sesuatu itu disampaikan dalam percakapan, not about what people say, but the way they say it.

Genderlect style pada intinya menyatakan bahwa “percakapan antara laki-laki dan perempuan merupakan sebuah komunikasi antar budaya”. Tannen memberikan ilustrasi atas hasil studinya melalui sebuah quote dari E.M. Foster bahwa “A pause in the wrong place, an intonation misunderstood, and a whole conversation went awry”. Artinya, jeda (dalam percakapan) yang salah ditempatkan akan menghasilkan intonasi yang salah dan selanjutnya membuat sebuah percakapan menjadi tidak beraturan atau kacau. Tannen mengatakan bahwa kesalahan penempatan jeda yang berujung pada ketidakberaturan ini banyak terjadi disetiap waktu antara laki laki dan perempuan. Efeknya adalah pada hal yang lebih membahayakan. Perempuan maupun laki-laki tidak menyadari bahwa mereka bertemu dan berasal dari kebudayaan yang berbeda. 

Menurut Tannen, pada percakapan yang beranggotakan jenis kelamin berbeda, kegagalan yang sering terjadi adalah kurangnya pemahaman pada perbedaan gaya percakapan (conversational style) sehingga berujung pada masalah yang lebih besar. Banyak perempuan dan laki laki yang tidak memahami bahwa membicarakan masalah atas satu sama lain hanya akan menimbulkan masalah baru.

Tannen menambahkan, ketika dia membandingkan gaya berbicara laki laki dan perempuan, ia menemukan sebuah wacana bahwa laki laki dan perempuan adalah spesis yang berbeda. Sebagai contoh, dua orang perempuan dapat duduk dengan sangat nyaman berhadap-hadapan dan saling peduli dalam sebuah percakapan. Tetapi ketika laki-laki diminta untuk berbicara tentang sesuatu yang serius, mereka berpindah dari topik ke topik dan justru bercerita tentang permainan dan kompetisi. Tannen menyatakan bahwa beralih dari dunia laki-laki ke dunia perempuan itu seperti beralih dari satu planet ke planet yang lain.

Pendekatan lintas budaya Tannen berangkat dari banyaknya kalangan/sarjana/akademisi yang menyatakan bahwa percakapan antara laki laki dan perempuan merefleksikan usaha laki-laki untuk mendominasi perempuan. Tannen menambahkan bahwa mengkategorisasikan laki laki dan perempuan dan komunikasi berdasarkan gender justru dapat menimbulkan ketidaknyamanan, misalnya ada yang berkata “kamu berbicara seperti laki-laki” kepada seorang perempuan atau ada yang berkata “kamu berbicara seperti perempuan” kepada seorang laki-laki.

Genderlect theory menjabarkan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan dalam raport talk dan repport talk. Pertama, bahwa perempuan berorientasi pada hubungan yang disebut dengan rapport talk, sementara laki-laki berorientasi pada status, memberi perintah dan memenangkan argumentasi yang disebut dengan report talk

Ilustrasi. Contoh perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan; Pertama, private speaking versus public speaking. Tannen menyatakan bahwa perempuan lebih banyak berbicara di ruang privat sementara laki-laki lebih banyak berbicara diruang publik. Kedua, telling a Story. Berdasarkan penelitian Tannen, terbukti bahwa laki laki lebih suka bercerita dibandingkan dengan perempuan, terutama pada hal hal yang berbau humor. Ketiga, listening. Tannen menemukan bahwa dalam percakapan, perempuan selalu menunjukkan ekspresi yang menunjukan bahwa i am listening, atau i am with you. Sementara laki-laki selalu menunjukan ekspresi menurut/selalu setuju, yang kadang-kadang dipahami oleh perempuan sebagai sesuatu yang tidak serius. Keempat, asking question. Dalam hal ini, perempuan selalu memberikan pertanyaan pertanyaan detail terhadap satu hal. Selain itu, perempuan juga selalu menggunakan question tag untuk memastikan bahwa yang ia katakan mendapat persetujuan. Kelima, conflict. Laki-laki lebih tidak mempermasalahkan hadirnya konflik dalam sebuah interaksi, tetapi bagi perempuan, konflik berarti ancaman bagi sebuah hubungan.

Ilustrasi lebih konkrit juga misalnya ditulis oleh (Mulyana 2009). Ia mengilustrasikan bahwa bangsa yang sama-sama berbahasa Inggris kadang-kadang belum tentu dapat saling memahami. Kendala bahasa dapat terjadi antara dua negara yang berbahasa sama. Perempuan inggris yang baru pindah ke Amerika bisa jadi akan merasa tidak nyaman dengan kebiasaan orang Amerika yang menyapa dengan “Hi How Are You?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya hanya untuk mengakui kehadiran orang lain dan tidak membutuhkan jawaban terus terang dari orang yang ditanyakan. Lebih lanjut, perbedaan bahasa ini juga terjadi misalnya pada mahasiswa mahasiswa yang belajar di Jepang. Dalam berbahasa, mereka ragu apakah harus menyapa Profesor dengan nama awalnya atau tidak, karena di Jepang, adalah suatu hal yang tabu ketika memanggil profesor perempuan dengan nama awal mereka.

Selanjutnya, ilustrasi genderlect style juga dapat kita amati misalnya dalam sebuah organisasi. Genderlect style menekankan pada cara seseorang menyampaikan sesuatu, bukan pada apa yang disampaikannya. Laki-laki dan perempuan memiliki bahasa dan style yang berbeda, dalam sebuah organisasi, dapat diamati bahwa perempuan lebih menyenangi penjelasan yang lebih detail dibandingkan dengan laki-laki. 

Penulis pernah mengalaminya langsung saat diberi tanggungjawab menjadi koordinator dalam sebuah kepanitiaan. Ada salah satu anggota divisi, laki-laki, yang tidak sempat penghadiri rapat perdana kepanitiaan tersebut. Sebagai koordinator maka penulis berinisiatif untuk bertemu secara personal dengan beliau agar tidak terjadi miss informasi dalam pembagian kerja. Yang menarik adalah, ditengah-tengah penjelasan konteks acara yang sedang dipaparkan, beliau segera memotong pembicaraan dan menanyakan tugas apa yang harus beliau kerjakan. Hal tersebut sangat jelas merupakan perbedaan gaya komunikasi antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan berorientasi pada hubungan sementara laki-laki berorientasi pada status sehingga langsung bertanya pada inti pekerjaan yang harus dia lakukan.  
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Featured Post

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana sebuah perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) mencerita...