• Teori Junk Culture

    Junk culture adalah budaya yang berbahaya, jauh dari intelektualisme. Junk culture juga akan menghambat otonomi, dan independensi pertumbuhan individu.

  • Teori Muted Communication

    Bahasa perempuan adalah sesuatu yang diabaikan dalam masyarakat, atau dengan kata lain, bahasa perempuan adalah sesuatu yang tidak bernilai.

  • Teori Genderlect

    Teori ini menekankan tentang percakapan laki-laki dan perempuan, not about what people say, but the way they say it.

  • Iklim Organisasi

    Iklim organisasi dipandang sebagai salah satu variabel kunci yang mempengaruhi komunikasi dan produktivitas serta kepuasan pegawai.

  • Teori Mass Deception

    Ada dua faktor yang mempengaruhi bagaimana mass deception itu terjadi, pada akhirnya pembohongan massal akan mempengaruhi pengambilan keputusan pada audiens grup online itu sendiri.

Wednesday, May 10, 2017

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana sebuah perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) menceritakan bahwa riset-riset difusi inovasi telah dimulai pada tahun 1962 dengan melihat perubahan-perubahan yang terjadi di Amerika dan Eropa. Pada tahun tersebut perkembangan difusi inovasi terjadi atas pengamatan perubahan yang terjadi di Amerika Latin, Afrika, kemudian Asia.

Secara historis, teori difusi inovasi pertama kali dikenalkan oleh ilmuwan Prancis sekaligus seorang hakim yang bernama Gabriel Tarde pada tahun 1903. Ia meneliti tentang difusi inovasi yang kemudian dikenal dengan istilah “The laws of imitation”. Pada masanya, Tarde mengamati kasus-kasus hukum di pengadilan, ia selanjutnya mengatakan bahwa sebuah inovasi akan diimitasi atau diadopsi lebih dahulu oleh seseorang yang paling dekat dengan sumber gagasan baru. Konsep difusi inovasi Tarde dikenal dengan kurva S yang menjelaskan imitasi ditinjau dari dimensi waktu. 

Rogers mengelompokkan beberapa tipe pengadopsi inovasi ditinjau dari segi rentang waktu. Ada lima tipe pengadopsi yakni (1) perintis (innovator) yang mencakup sebanyak 2,5 % dari suatu populasi, (2) pelopor (early adopter) sekitar 1,5 %, (3) penganut dini (early majority) sekitar 34 %, (4) penganut lambat (late majority) dan (5) kaum kolot (laggard) sekitar 16 % (Harun 2011).

Tarde berhenti pada kurva difusi. Menurut (Rogers 1983) keterbatasan pengamatan difusi inovasi saat itu berhenti karena ilmuwan dimasa Tarde belum memiliki alat metodologis untuk meneliti tentang difusi inovasi. Dalam bukunya, (Rogers 1983) menambahkan tentang perkembangan penelitian difusi inovasi setelah masa Tarde. Salah satunya adalah konsep inovasi yang berkembang di Jerman, yang menyatakan bahwa inovasi hanya berasal dari satu sumber saja. Artinya, difusi inovasi menolak konsep penemuan paralel.

Teori difusi inovasi semakin hari semakin menemukan bentuknya. Bahkan terdapat beberapa tradisi dalam penelitian untuk memandang fenomena difusi inovasi. Diantaranya antropologi, sosiologi, sosiologi pedesaan, pendidikan, kesehatan masyarakat, sosiologi umum, pemasaran, termasuk didalamnya tradisi komunikasi. Pada awalnya, komunikasi tidak dipandang sebagai tradisi dalam penelitian difusi inovasi. Kalangan ilmuwan sosiologi pedesaanlah yang paling banyak menganalisis kasus-kasus difusi inovasi. Secara historispun penelitian tentang difusi inovasi telah dimulai sebelum komunikasi dilembagakan secara akademis. Namun, karena penelitian-penelitian komunikasi terkait inovasi semakin bertambah, maka komunikasi pada akhirnya dijadikan salah satu tradisi dalam penelitian difusi inovasi (Rogers 1983).

Memahami definisi difusi inovasi artinya memahami secara terpisah apa yang disebut dengan difusi dan apa yang disebut dengan inovasi. Difusi adalah proses dimana sebuah inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dari waktu ke waktu diantara anggota sistem sosial. Difusi adalah salah satu jenis komunikasi yang khas/khusus. Kekhususan komunikasi ini terletak bahwa difusi adalah proses mengkomunikasi ide-ide baru. (Rogers 1983).

Tak hanya proses difusi, inovasi juga sangatlah penting dalam rangka memahami apa yang disebut proses difusi inovasi. Inovasi menurut Rogers adalah suatu gagasan, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau unit adopsi lainnya. Kebaruan suatu gagasan, praktik, atau objek tersebut akan menentukan reaksi individu tertentu terhadap inovasi tersebut. Seseorang bisa jadi telah mengetahui kehadiran inovasi, tetapi masih belum mengembangkan sikap mendukung atau menolak inovasi tersebut (Rogers 1983).

Selanjutnya, (Rogers 1983 dalam Harun 2011) juga mengulas karakter sebuah inovasi; (1) keuntungan relatif (relative advantage), (2) kesesuaian inovasi tersebut dengan tata nilai maupun pengalaman yang ada (compatibility), (3) kerumitan untuk mempelajari dan menggunakan inovasi tersebut (complexity), (4) kesempatan untuk mencoba inovasi secara terbatas (trialibility) dan (5) cepatnya hasil inovasi itu dapat dilihat. Menurut (Rogers 1983), sebuah inovasi terjadi berlandaskan pada empat hal; yakni inovasi itu sendiri, saluran komunikasi yang digunakan, rentang waktu, dan sistem sosial.

Referensi
Rogers, Everett M. 1983. Diffusion of Innovation. Newyork: The Free Press
Share:

Saturday, May 6, 2017

Iklim Organisasi

Secara tradisional, iklim organisasi dipandang sebagai salah satu variabel kunci yang mempengaruhi komunikasi dan produktivitas serta kepuasan pegawai. Menurut Poole dan McPhee, iklim organisasi adalah penjelasan umum kolektif tentang organisasi yang membentuk harapan dan perasaan anggotanya dan juga kinerja organisasi. Anggota organisasi membuat iklim organisasi ketika mereka menjalani kegiatan sehari-hari mereka dan setiap organisasi memiliki beragam iklim untuk kelompok yang berbeda.

(Pace dan Faules 2006) mengulas bahwa iklim komunikasi merupakan gabungan dari persepsi-persepsi mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respons pegawai terhadap pegawai lainnya, harapan-harapan, konflik-konflik antar persona dan kesempatan bagi pertumbuhan dalam organisasi tersebut. Iklim komunikasi berbeda dengan iklim organisasi dalam arti iklim komunikasi meliputi persepsi mengenai pesan dan peristiwa yang berhubungan dengan pesan yang terjadi dalam organisasi.  

Iklim komunikasi organisasi terdiri dari persepsi atas unsur organisasi dan pengaruh unsur tersebut terhadap komunikasi. Pengaruh ini didefinisikam, disepakati, dikembangkan, di kokohkan, secara berkesinambungan melalui interaksi dengan anggota organisasi lainnya. Pengaruh ini menghasilkan pedoman bagi keputusan keputusan dan tindakan tindakan individu, dan mempengaruhi pesan pesan mengenai organisasi (Pace dan Faules 2006). 

(Pace dan Faules 2006) menambahkan bahwa iklim komunikasi berkembang dalam konteks organisasi. Unsur dasar yang membentuk organisasi dapat diringkaskan menjadi lima ketagori besar yakni; anggota organisasi, pekerjaan dalam organisasi, praktik praktik pengelolaan, struktur organisasi, dan pedoman organisasi.  

(Pace dan Faules 2006)  melanjutkan tentang Anggota Organisasi yakni orang yang melaksanakan pekerjaan organisasi. orang-orang yang membentuk organisasi terlibat dalam beberapa kegiatan primer. Mereka terlibat dalam kegiatan pemikiran yang meliputi konsep, penggunaan bahasa, pemecahan masalah, dan pembentukan gagasan. 

Selanjutnya adalah poin Pekerjaan dalam Organisasi. (Pace dan Faules 2006) mengatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh anggota organisasi terdiri dari tugas tugas formal dan informal. Tugas tugas ini menghasilkan produk dan memberikan pelayanan organisasi. ada tiga dimensi universal. Yakni isi, keperlua, dan konteks. Isi adalah apa yang dilakukan oleh anggota organisasi dalam hubungannya dengan bahan, orang orang, dan tugas tugas lainnya dengan mempertimbangkan metode metode serta teknik teknik yang digunakan, mesin mesin, perkakas, dan peralatan yang dipakai, dan informasi yang diciptakan. Selanjutnya adalah keperluan yang merujuk pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dianggap sesuai bagi seseorang agar mampu melaksanakan pekerjaan tersebut, meliputi pendidikan, pengalaman, lisensi, dan sifat sifat pribadi. Dan dimensi yang terakhir adalah konteks yang berkaitan dengan kebutuhan kebutuhan fisik dan kondisi kondisi lokasi pekerjaan, jenis pertanggungjawaban, dan tanggungjawab dalam kaitannya dengan pekerjaan, jumlah pengawasan yang diperlukan, dan lingkungan umum tempat pekerjaan dilaksanakan.  

Unsur organisasi yang ketiga adalah Praktik Praktik Pengelolaan. Tujuan primer pegawai manajeriel adalah menyelesaikan pekerjaan melalui usaha orang lainnya. Manajer membuat keputusan mengenai bagaimana orang orang lainnya, biasanya bawahan mereka menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. sebagian manajer membawahi para pekerja yang beroperasi, sementara sebagian lainnya membawahi manajer manajer lainnya.

Masih dari sumber yang sama, (Pace dan Faules 2006)  mengulas tentang unsur organisasi ke empat yakni Struktur Organisasi. Poin ini telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya bahwa struktur organisasi terdiri dari tiga jenis, struktur garis, struktur staf dan garis serta struktur matriks. Poin kelima dalam unsur organisasi adalah pedoman organisasi. Pedoman Organisasi adalah serangkaian pernyataan yang mempengaruhi, mengendalikan, dan memberi arahan bagi anggota organisasi dalam mengambil keputuan dan tindakan. Pedoman organisasi terdiri atas pernytaan pernyataan seperti cita cita, misi, tujuan, strategi, kebijakan prosedur, dan aturan. Berbagai macam pedoman ini menyediakan informasi untuk para anggota organisasi mengenai kemana organisasi ini menuju, apa yang harus mereka lakukan, bagaimana seharusnya mereka berpikir tentang masalah masalah organisasi dan solusi solusinya, dna tindakan apa yang harus mereka lakukan untuk keberhasilan organisasi tersebut (Pace dan Faules 2006) .

Referensi:
Pace dan Faules. 2006. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung (ID). Remaja Rosdakarya. 
Share:

Friday, May 5, 2017

Perkembangan Teori Organisasi

Teori Organisasi Klasik. 
Teori klasikal biasanya disebut dengan teori struktural dalam organisasi. Teori ini berasal dari dua teori yakni teori saintifik manajemen yang dikembangkan oleh W. Tylor (1911) yang menekankan pada pembagian pekerjaan untuk mendapatkan hasil maksimal dengan biaya seefisien mungkin. Sejalan dengan prinsip Tylor ini, Henry Fayol 1919 mengembangkan teori yang lebih luas yang menekankan pada spesialisasi pekerjaan, otoritas, kontrol dan pendelegasian tanggung jawab. Selain teori saintifik manajemen, teori yang yang membangun teori organisasi klasik adalah teori birokrasi yang dikembangkan oleh max Weber (1847) yang menekankan pada pentingnya bentuk struktur hierarki yang efektif bagi organisasi (Muhammad 2009). (Muhammad 2009) menjelaskan bahwa anggapan dasar teori organisasi klasik dibangun berdasarkan beberapa asumsi berikut; 

(1) organisasi ada terutama untuk menyelesaikan tujuan tujuan yang telah ditetapkan. (2) bagi suatu organisasi, ada struktur yang tepat bagi tujuan, lingkungan, teknologi, dan partisipannya. (3) pekerjaan organisasi paling efektif apabila ada tantangan lingkungan dan kepentingan pribadi terhalang oleh norma-norma rasionalitas. (4) spesialisasi akan meningkatkan taraf keahlian dan performa individu. (5) koordinasi dan kontrol paling baik melalui praktik otoritas dan aturan aturan yang tidak bersifat pribadi. (6) struktur dapat dirancang secara sistematis dan dapat dilaksanakan. (7) masalah-masalah organisasi biasanya merefleksikan struktur yang tidak tepat dan dapat diselesaikan melalui perancangan dan pengorganisasian kembali (Bolman, 1988). Lebih jauh lagi, (Muhammad 2009) mengulas bahwa ada empat yang menjadi unsur kunci dari teori organisasi klasik, yakni pembagian kerja, hierarki proses fungsional, struktur dan pengawasan yang ketat. 

Organisasi dengan Pendekatan humanistik. Selanjutnya, memahami organisasi juga dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan humanistik dimana pada intinya teori ini menekankan perhatian khusus pada manusia/individu sebagai anggota organisasi. Dalam bukunya komunikasi organisasi, Muhammad (2009) menjelaskan bahwa manusia sebagai anggota organisasi merupakan inti organisasi sosial. Manusia terlibat dalam tingkah laku organisasi. Misalnya anggota organisasi yang memutuskan apa peranan yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Teori ini menyarankan strategi peningkatan dan penyempurnaan organisasi dengan meningkatkan kepuasan anggota organisasi dan menciptakan organisasi yang dapat membantu individu mengembangkan potensinya. Dengan meningkatkan kepuasan kerja dan aktualisasi diri dan mengarahkan aktualisasi diri pekerja, akan mempertinggi motivasi bekerja sehingga akan dapat meningkatkan produksi organisasi. Aliran hubungan manusia (human relation) muncul di AS yang mampu menyingkap fenomena baru, yakni dimensi sosial hubungan karyawan industri sebagai makhluk sosial (social animal). Bapak aliran ini adalah george Elton Mayo (1880-1949) (Hardjana 2016).     

Organisasi Sebagai Sistem. (Hardjana 2016) mengulas Organisasi sebagai sistem dijelaskan dengan aliran kesisteman (sistem theory). Aliran kesisteman dalam ilmu-ilmu sosial muncul hampir bersamaan dengan pemikiran tentang hubungan manusiawi. Definisi Bernard menyatakan bahwa organisasi adalah sistem kegiatan-kegiatan atau daya-daya dari dua orang atau lebih yang dikoordinasi secara sadar sering dianggap sebagai bukti munculnya kesadaran tentang pendekatan kesisteman dalam studi organisasi. Barnard  (1938:65) menjelaskan bahwa pengertian sistem meliputi tiga tataran yakni (1) sistem yang terbentuk dari bagian bagian yang saling berhubungan dan disebut subsistem, (2) subsistem yang merupakan bagian bagian saling berhubungan dengan sistem secara keseluruhan, dan (3) sistem besar atau supra sistem yang meliputi berbagai organisasi sebagai kesatuan lingkungan. Dengan demikian, istilah sistem ada yang diartikan sebagai unit kerja (subsistem), organisasi (sistem) yang mengintegrasikan unit unit kerja, dan sistem sosial (supra sistem) yang meliputi berbagai organisasi di lingkungan sekitar. 

Menurut Scoot (1961) dalam Muhammad  (2009), satu satunya cara yang bermakna untuk mempelajari organisasi adalah organisasi sebagai suatu sistem. Ia mengemukakan bahwa bagian bagian penting organisasi sebagai sistem adalah individu dan kepribadian setiap orang dalam organisasi, struktur formal, pola interaksi yang informal, pola status dan peranan yang menimbulkan pengharapan pengharapan dan lingkungan fisik pekerjaan. Konsep sistem berfokus pada pengaturan bagian-bagian, hubungan antara bagian-bagian, dan dinamika hubungan tersebut yang menumbuhkan kesatuan atau keseluruhan. 

Pendekatan Keputusan dalam Organisasi. Pendekatan keputusan dalam organisasi merupakan pendekatan yang fokus pada proses pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Dalam organisasi, salah satu proses yang sering dilalui adalah proses pengambilan keputusan (decision making). Pengambilan keputusan merupakan sebuah proses yang sudah terimplementasi dalam kerja kerja organisasi, hal ini berarti bahwa pengetahuan tentang pengambilan keputusan itu telah dipahami oleh individu individu yang terlibat dalam organisasi tersebut. Ada beberapa model pengambilan keputusan yang biasanya terjadi dalam organisasi. Dalam jurnal Orion (2004), Turpin dan Marais menuliskan sembilan poin yang menjadi model dalam pengambilan keputusan dalam organisasi. Yakni, Rational Model, Bounded rationality, Incrementalist view, Organizational Prosedur View, Political view, Garbage Can Model, Individual Different Perspective, Naturalistic Decision Making, dan The Multiply Perspective Approach (Turpin dan Marais 2004). 

Organisasi dalam Pendekatan Komunikasi. Masih dari sumber yang sama, (Turpin dan Marais 2004) menjelaskan bahwa semua kecenderungan teori komunikasi yang ada saat ini mengakui bahwa organisasi muncul melalui interaksi antar anggotanya. Dengan kata lain, komunikasi yang dianggap sebagai sebuah alat bantu oleh anggota organisasi sebenarnya merupakan media yang menjadikan organisasi tersebut ada. Weick benar. Komunikasi adalah sebuah proses berorganisasi, dan karena komunikasi bersifat dinamis, sebuah organisasi hanyalah gambaran dari sebuah proses yang selalu berkembang. 

Referensi
Hardjana, Andre. 2016. Komunikasi Organisasi Strategi dan Kompetensi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 
Muhammad, Arni. 2009. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara. 
Turpin dan Marais (2004) Decision Making:Theory and Practic:Jurnal orion.   
Share:

Teori Junk Culture

Junk Culture

Jika ditinjau secara etimologi berarti junk; rongsokan/sampah dan culture; budaya, maka secara singkat dapat dipahami sebagai budaya sampah atau budaya rongsokan. (Giles 2003) menjelaskan bahwa junk culture adalah budaya yang berbahaya, jauh dari intelektualisme. Budaya ini jika di konsumsi akan memiliki resiko pengurangan tingkat kedewasaan dari dewasa menjadi anak anak usia 11 tahunan. Junk culture juga akan menghambat otonomi, dan independensi pertumbuhan individu.

Terkait konsep otonomi, (Ryan, Deci 2006) menulis tentang otonomi seseorang sebagai kemampuan mengendalikan diri, atau self regulation. Mereka mengulas bahwa manfaat otonom terhadap regulasi dikendalikan untuk kinerja tujuan, ketekunan, pengalaman afektif, kualitas hubungan, dan kesejahteraan seluruh domain dan budaya. Otonomi juga dikaitkan dengan proses penentuan nasib sendiri, dalam arti yang sempit dapat dicontohkan dalam hal pengambilan keputusan atas beberapa pilihan yang sedang dihadapi.

Selanjutnya, (Ryan, Deci 2006) menjelaskan bahwa otonomi berkaitan erat dengan pilihan seseorang tentang akan bergabung/tidaknya dia dalam hiruk pikuk tertentu. Jika dikaitkan dengan junk culture maka dapat diartikan bahwa junk culture adalah budaya yang menghambat otonomi/kemandirian seseorang. Dalam hal ini, seorang individu akan kehilangan otonomi ketika dihadapkan pada junk culture. Dalam bahasa penulis, junk culture dapat membuat seseorang ikut-ikutan pada budaya tertentu tanpa proses seleksi yang panjang karena faktor kemandirian yang rendah. 

Ilustrasi Junk Culture; Om Telolet Om
Om Telolet Om adalah sebuah teriakan yang biasa diucapkan oleh anak-anak di pinggir jalan ketika sebuah bus melintas dengan harapan sopir akan membunyikan klakson yang unik. “Telolet telolet”, begitu bunyinya. Ini mendadak jadi populer pada Desember 2016, setelah berbagai DJ terkenal mencuitkannya di media sosial Twitter. Tapi sebelum itu, video-video lucu yang memperlihatkan orang-orang dewasa meminta telolet ke supir bus pun sudah lebih dulu viral di Facebook.
Share:

Teori Kultivasi

Teori Kultivasi 

Ada dua gagasan utama dalam teori kultivasi, yakni mainstreaming yang menyatakan bahwa perbedaan latar belakang budaya dan nilai nilai secara bertahap menjadi menyatu sebagai akibat dari TV internasional. Gagasan selanjutnya adalah resonance dimana media hanya bertindak untuk memperkuat kehidupan nyata yang dialami oleh masyarakat/rakyat. Dalam (Giles 2003) diceritakan bahwa beberapa penelitian yang berkaitan dengan teori kultivasi ini menitik beratkan pada “heavy” dan “light” meskipun pada kenyataannya sulit menetukan dengan pasti faktor apa yang mempengaruhi perilaku individu pada saat menyaksiakan suatu siaran. Sulit melihat bagaimana media itu dikontrol. Namun, satu pendapat mengatakan bahwa faktor tema siaran dan tokoh dalam siaran itu mempengaruhi perilaku audiens terhadap media itu sendiri.

Sebagai contoh, dalam iklan iklan produk, menurut teori kultivasi akan sangat berpengaruh bagaimana iklan produk itu dibentuk. Dari konsep kultivasi yang terakhir disebutkan, maka dapat kita simpulkan bahwa tokoh dalam iklan, dalam hal ini brand ambasador akan lebih baik dari iklan iklan komersil yang lain. Karena akan mempengaruhi perilaku audiens terhadap media yang menayangkan iklan tersebut, atau bahkan berujung pada aperilaku audiens untuk membeli atau tidak produk tersebut.  

Referensi
Giles, D. 2003. Media Psychology. USA: Lawrence Erlbaum Associates
Share:

Teori Mass Deception

Mass Deception
Deception adalah salah satu strategi yang sering digunakan oleh negosiator untuk mendapatkan kepatuhan orang lain dan untuk memaksimalkan keuntungan mereka sendiri (Lewicky dan Robinson 1998; Triandis 2001 dalam Zhou, L., Sung, Y., & Zhang, D. 2013). Jika dikaitkan dengan mass deception maka deception yang dimaksud adalah deception yang dilakukan pada khalayak massa. Salah satu contohnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Lina et all (2013). Mereka meneliti tentang deception dalam grup negosiasi online yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi bagaimana penipuan tersebut dilakukan sehingga mempengaruhi pengambilan keputusan pada audiens grup online itu sendiri. 

Dua faktor tersebut adalah pengalaman deception dan keterampilan deception. Hasil riset menunjukan bahwa yang memiliki pengaruh positif terhadap pengambilan keputusan adalah keterampilan deception sementara pengalaman deception menghasilkan pengaruh negatif. Penelitian tersebut pada awalnya memiliki asumsi bahwa pengalaman deception akan memberikan hasil positif terhadap pengaruh pengambilan keputusan karena pengalaman deception pada akhirnya berkaitan erat dengan adanya proses belajar dari negosiator/komunikator. Tetapi, ternyata asumsi tersebut terpatahkan karena yang justru memberikan hasil positif dalam pengambilan keputusan audiens dalam proses deception itu adalah justru dari keterampilan deception, yakni deception yang dibangun berdasarkan strategi tertentu yang berkaitan juga dengan tingkat kredibilitas negosiator atau komunikator.

Sejalan dengan hal tersebut, Theodor Adorno and Max Horkheimer (1944) juga dalam tulisan mereka dengan judul The Culture Industry: Enlighment as a Mass Deception, mengulas bahwa deception berusaha menunjukan kepada audiens bahwa apa yang mereka lihat adalah yang benar-benar mereka butuhkan.

Berdasarkan konsep deception diatas, penulis mengambil contoh dalam penggunaan media massa online. Telah dijelaskan bahwa audiens dihadapkan pada informasi yang dibuat seolah olah bahwa informasi tersebut adalah informasi yang benar-benar mereka butuhkan, meskipun didalamnya terdapat unsur rekayasa/deception yang bertujuan agar negosiator atau komunikator mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam hal ini, negosiator/komunikator melalui kontennya menjalankan apa yang kita sebut dengan deception. Misalnya iklan produk kecantikan. Melalui iklan, komunikator produk berusaha menampilkan konten yang seakan-akan dibutuhkan oleh audiens yang diharapkan berujung pada pembelian produk kecantikan itu sendiri. Kaitan yang terpenting dalma hal ini berdasarkan hasil analisis dari penelitian yang dijelaskan sebelumnya bahwa ada unsur kredibilitas komunikator atau negosiator yang mempengaruhi pengambilan keputusan audiens. Dalam hal ini contoh yang penulis sampaikan jelas berkaitan dengan identitas media online yang menyebarkan konten tersebut. 

Referensi
Zhou, L., Sung, Y., & Zhang, D. (2013). Deception performance in online group negotiation and decision making: The effects of deception experience and deception skill. Group Decision and Negotiation, 22(1), 153-172. doi:http://dx.doi.org/10.1007/s10726-012-9303-9
Share:

Teori Standpoint

Teori Standpoint  (Sumber: Griffin 2009)   

Standpoint Theory adalah teori gender yang dicetuskan oleh Sandra Harding dan Julia T Wood. Premis utama teori ini menjelaskan tentang standpoint atau bisa juga dikatakan perspektif, posisi, viewpoint, atau outlook yang melekat pada diri seseorang. Standpoint Theory menegaskan bahwa jika kita ingin mengetahui dunia, maka salah satu caranya adalah memahami standpoint perempuan atau kaum marginal lainnya. Sandra Harding dan Julia T Wood juga mengklaim bahwa kelompok-kelompok sosial dimana kita berinteraksi atau tinggal sangat mempengaruhi pengalaman dan pengetahuan kita, termasuk bagaimana kita memahami dan berkomunikasi dengan diri sendiri, orang lain, dan juga dunia. 

Selanjutnya, Teori standpoint menegaskan bahwa kita dapat menggunakan ketidaksetaraan gender, ras, kelas, dan orientasi seksual untuk mengamati dan meneliti bahwa perbedaan kelas sosial akan menghasilkan sesuatu yang khas dalam hubungan sosial. Lebih khusus, Harding mengatakan bahwa ketika kita berbicara dengan orang dengan kekuasaan yang tidak sama, dapat terjadi perbedaan sudut pandang. Perspektif dari kaum marginal akan lebih objektif dibandingkan dengan kaum yang memiliki kuasa.

Ilustrasi Bahwa Stanpoint Seorang Feminist Berakar pada Filosofi dan Literatur. Seorang filosof German, Georg Hegel menganalisis hubungan antara majikan-budak untuk menunjukkan bahwa apa yang orang tahu tentang diri mereka, orang lain, dan masyarakat akan sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka berada saat itu. Majikan dan budak akan memiliki perspektif yang berbeda meskipun mereka berada pada situasi atau realitas yang sama. Namun, ketika “para tuan” membangun struktur masyarakat, mereka memiliki kuasa untuk membuat perspektif yang mereka miliki dianut oleh orang orang dari kaum yang lain.

Selanjutnya, Harding menjelaskan bahwa standpoint theory adalah teori yang sejalan dengan konsep Marxian dengan mengganti perempuan untuk kaum proletar dan diskriminasi gender untuk “class struggle” atau perjuangan kelas. Wood menyatakan bahwa gender adalah sebuah konstruksi budaya daripada sebuah karakteristik biologi. Gender adalah sebuah sistem makna yang membentuk standpoint individu berdasarkan posisi perempuan dan laki laki dalam berbagai materi yang berbeda, soail dan juga keadaan umum yang simbolis. Selanjutnya, standpoint theory juga berkaitan dengan pandangan posmodernisme. Salah satunya ketika Jean-Francois mengumumkan tentang ketidakpercayaan terhadap metanarratives. Penjelasan ini menunjukan bahwa Harding dan Wood berinteraksi sangat kuat dengan konsep konsep sebelumnya seperti Marxian, atau Posmodernisme tetapi tidak membiarkan ide atau konsep standpoint theory mereka terpengaruh dengan konsep konsep tersebut.

Perempuan Sebagai Kelompok Marginal. Teori standpoint melihat perbedaan penting antara laki laki dan perempuan. Wood menggunakan teori relational dialectic tentang autonomy connectedness. Bahwa laki-laki dianggap lebih otonom sementara perempuan dianggap lebih suka membangun hubungan dengan orang lain. Perbedaan ini terbukti dalam komunikasi kelompok, bahwa kelompok laki-laki menggunakan percakapan untuk menyelesaikan tugas, sementara kelompok perempuan menggunakan percakapan untuk membangun sebuah hubungan termasuk memperlihatkan kepedulian. Melanjutkan hal ini, Wood mengatakan bahwa realitas seperti yang terjadi diatas sering kita temukan pada setiap lingkungan masyarakat. Sebuah budaya tidak terjadi tiba tiba pada setiap angota kelompok. Budaya adalah hirarki yang terjadi secara berurutan. Teori standpoint juga menyatakan bahwa perempuan kurang beruntung, sementara laki-laki sangat beruntung dan pada akhirnya perbedaan gender melahirkan sebuah perbedaan yang sangat besar. 

Harding dan Wood menyatakan bahwa tidak semua perempuan memiliki standpoint yang sama. Disamping isu gender, Harding juga menekankan bahwa kondisi ekonomi, ras, dan orientasi seksual adalah tambahan identitas budaya yang dapat membawa seseorang ke tengah tengah masyarakat atau justru mengucilkan mereka dari lingkungannya. Standpoint theory pada akhirnya juga dapat menjelaskan posisi posisi marginal seperti kaum lesbian. Standpoint theory juga menekankan pentingnya lokasi sosial untuk meyakinkan bagaimana pemegang kuasa memiliki hak istimewa untuk mendefinisikan tentang perempuan, laki-laki, atau apapun yang berkaitan dengan kebudayaan.

Knowledge From Nowhere Versus Local Knowledge. Harding berargumen bahwa kelompok sosial yang mendapat kesempatan untuk mendefinisikan masalah masalah, konsep, asumsi dan hipotesis penting tentang sebuah subjek akan meninggalkan jejak sosial atau sejarah dalam bentuk sebuah penelitian dibidang tersebut. Harding dan ahli teori standpoint lain menekankan bahwa tidak ada kemungkinan perspektif yang tidak bias yang tertarik, berimbang, bebas nilai, atau terpisah dari sebuah situasi bersejarah. Selanjutnya, baik ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan sosial selalu saja bergantung pada situasi dan waktu. Pada intinya, knowledge from nowhere berbanding terbalik dengan local knowledge. Bahwa local knowledge bergantung pada situasi dan waktu, sementara knowledge from nowhere bersifat bebas nilai. 

Kekuatan Objektivitas: Tinjauan Lebih Parsial dari Standpoint Perempuan. Harding menggunakan konsep strong objectiviness untuk melihat strategi mengawali penelitian tentang kehidupan perempuan dan kaum marginal lain dimana kepentingan dan pengalaman perempuan serta kaum marginal tersebut diabaikan. Dalam hal ini, standpoint theory dikatakan dapat memberikan perspektif secara lebih menyeluruh dibandingkan dengan perspektif yang dimiliki laki-laki. Ada dua alasan mengapa harding mengatakan demikian. Pertama, karena perempuan yang berada diposisi subordinat memiliki motivasi yang lebih besar untuk mengerti perspektif dari orang-orang dengan kekuasaan yang lebih tinggi. Kedua, bahwa kelompok kelompok marginal biasanya memiliki sedikit alasan untuk mempertahankan status quo. 

Dari Teori Ke Praktek: Riset Komunikasi Berdasarkan Kehidupan Perempuan. Jika kita ingin melihat model riset komunikasi yang dimulai dari kehidupan perempuan, maka tempat yang tepat untuk mengetahuinya adalah pada studi Julia T Wood tentang caregiving di Amerika Serikat. Sejalan dengan teori standpoint, bahwa pengetahuan tergantung pada situasi dan kondisi. Wood mendeskripsikan dirinya sebagai seorang kulit putih, heteroseksual, perempuan profesional yang memiliki tanggungjawab untuk mengurus kedua orangtuanya. Wood kemudian melihat bahwa praktek komunikasi gender mereflkesikan dan sekaligus memaksakan tentang harapan sosial “social expectation” bahwa caregiving adalah pekerjaan perempuan. 

Wood mengatakan bahwa kebudayaan tentang caregiving sebagai pekerjaan perempuan harus diubah dengan cara menjauhkan penggunaan istilah caregiving hanya dengan afiliasi pada perempuan saja. Tak hanya itu, Wood juga mengatakan bahwa perlunya pendefinisian kembali dan penekanan kepada masyarakat bahwa caregiving adalah tanggungjawab semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.

Gagasan Standpoint Pada Feminist Kulit Hitam. Patricia Hill Collins, seorang sosiologi African-American mengklaim bahwa prinsip “intersecting oppressions” berkaitan dengan perempuan kulit hitam di Amerika Serikat yang pernah mengalami masa pada tempat marginal dibandingkan dengan perempuan kulit putih ataupun laki-laki kulit hitam. Kaitannya dengan stanpoint theory adalah kondisi sosial atau latar balakang sosial akan mempengaruhi marginal atau tidaknya suatu kaum.

Kritik Pada Teori Standpoint. Ada beberapa kritik yang diberikan untuk teori standpoint. Pertama, adalah kritik dari feminist seperti Susan Hekman dan Nancy Hirschmann yang fokus pada pernyataan Harding. Menurut mereka, standpoint theory mengabaikan aturan bahwa bahasa bermain pada ekspresi perasaan dalam diri dan sudut pandang dari dunia. Kritik ini dilanjutkan bahwa pilihan orang orang untuk berkomunikasi tidak akan pernah netral dan bebas nilai, jadi standpoint tidak dapat terlihat dari cara mereka berbahasa. Kedua, kritik yang berkaitan dengan kekuatan objektivitas yang menurut kritikusnya adalah sesuatu yang kontradiktoris. Jika ditinjau dari konsep postmodernis, standpoint theory mengatakan bahwa standpoint adalah sesuatu yang relatif dan tidak dapat dievaluasi dengan ketentuan yang pasti atau kriteria mutlak. Sementara disisi yang lain, Harding dan Wood justru mengatakan bahwa  perspektif perempuan lebih bebas nilai daripada perspektif kaum yang lebih terhormat misalnya laki-laki.

Ilustrasi. Berkaitan dengan standpoint perempuan. Penulis pernah berkenalan dengan perempuan korban kekerasan seksual. Ia bernama B yang sedang menempuh pendidikan menengah atas di Yogyakarta. Sebelumnya, B terkenal sebagai anak yang periang dan banyak bergaul dengan masyarakat. Namun, ketika peristiwa perkosaan itu terjadi, seketika dunianya berubah dari perempuan aktif menjadi perempuan yang berdiam diri dalam kamar. Saat bercakap dengan B, penulis menanyakan tentang perubahan dalam diri yang menurutnya terjadi dengan drastis. B menjawab bahwa ada perasaan rendah diri yang menyelimuti pikirannya sehingga membuatnya enggan untuk bergabung dengan teman sebayanya. Stanpoint dalam  ilustrasi ini terletak pada definisi B tentang dirinya sendiri sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku yang ditunjukkan kepada masyarakat sekitar. Standpoint dapat berbeda-beda untuk setiap individu. Misalnya standpoint perempuan yang tumbuh dalam keluarga harmonis dan penuh kelembutan akan berbeda dengan standpoint perempuan yang tumbuh dalam lingkungan kasar dan berat. Dalam hal ini, standpoint perempuan dan laki-laki jelas jelas akan berbeda oleh karena adanya perbedaan latar belakang tertentu. 
Share:

Teori Genderlect

Teori Genderlect (Sumber: Griffin 2009)

Genderlect theory atau biasa dikenal dengan genderlect style adalah salah satu teori gender yang melihat perbedaan antara laki laki dan perempuan berdasarkan perbedaan budaya. Deborah Tannen adalah pencetus teori ini. Ia merupakan Profesor Linguistik dari Georgetown University yang lebih khusus meneliti tentang gaya percakapan (conversational style). Tannen tidak meneliti tentang apa yang dikatakan oleh seseorang ketika bercakap, tetapi ia meneliti tentang bagaimana sesuatu itu disampaikan dalam percakapan, not about what people say, but the way they say it.

Genderlect style pada intinya menyatakan bahwa “percakapan antara laki-laki dan perempuan merupakan sebuah komunikasi antar budaya”. Tannen memberikan ilustrasi atas hasil studinya melalui sebuah quote dari E.M. Foster bahwa “A pause in the wrong place, an intonation misunderstood, and a whole conversation went awry”. Artinya, jeda (dalam percakapan) yang salah ditempatkan akan menghasilkan intonasi yang salah dan selanjutnya membuat sebuah percakapan menjadi tidak beraturan atau kacau. Tannen mengatakan bahwa kesalahan penempatan jeda yang berujung pada ketidakberaturan ini banyak terjadi disetiap waktu antara laki laki dan perempuan. Efeknya adalah pada hal yang lebih membahayakan. Perempuan maupun laki-laki tidak menyadari bahwa mereka bertemu dan berasal dari kebudayaan yang berbeda. 

Menurut Tannen, pada percakapan yang beranggotakan jenis kelamin berbeda, kegagalan yang sering terjadi adalah kurangnya pemahaman pada perbedaan gaya percakapan (conversational style) sehingga berujung pada masalah yang lebih besar. Banyak perempuan dan laki laki yang tidak memahami bahwa membicarakan masalah atas satu sama lain hanya akan menimbulkan masalah baru.

Tannen menambahkan, ketika dia membandingkan gaya berbicara laki laki dan perempuan, ia menemukan sebuah wacana bahwa laki laki dan perempuan adalah spesis yang berbeda. Sebagai contoh, dua orang perempuan dapat duduk dengan sangat nyaman berhadap-hadapan dan saling peduli dalam sebuah percakapan. Tetapi ketika laki-laki diminta untuk berbicara tentang sesuatu yang serius, mereka berpindah dari topik ke topik dan justru bercerita tentang permainan dan kompetisi. Tannen menyatakan bahwa beralih dari dunia laki-laki ke dunia perempuan itu seperti beralih dari satu planet ke planet yang lain.

Pendekatan lintas budaya Tannen berangkat dari banyaknya kalangan/sarjana/akademisi yang menyatakan bahwa percakapan antara laki laki dan perempuan merefleksikan usaha laki-laki untuk mendominasi perempuan. Tannen menambahkan bahwa mengkategorisasikan laki laki dan perempuan dan komunikasi berdasarkan gender justru dapat menimbulkan ketidaknyamanan, misalnya ada yang berkata “kamu berbicara seperti laki-laki” kepada seorang perempuan atau ada yang berkata “kamu berbicara seperti perempuan” kepada seorang laki-laki.

Genderlect theory menjabarkan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan dalam raport talk dan repport talk. Pertama, bahwa perempuan berorientasi pada hubungan yang disebut dengan rapport talk, sementara laki-laki berorientasi pada status, memberi perintah dan memenangkan argumentasi yang disebut dengan report talk

Ilustrasi. Contoh perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan; Pertama, private speaking versus public speaking. Tannen menyatakan bahwa perempuan lebih banyak berbicara di ruang privat sementara laki-laki lebih banyak berbicara diruang publik. Kedua, telling a Story. Berdasarkan penelitian Tannen, terbukti bahwa laki laki lebih suka bercerita dibandingkan dengan perempuan, terutama pada hal hal yang berbau humor. Ketiga, listening. Tannen menemukan bahwa dalam percakapan, perempuan selalu menunjukkan ekspresi yang menunjukan bahwa i am listening, atau i am with you. Sementara laki-laki selalu menunjukan ekspresi menurut/selalu setuju, yang kadang-kadang dipahami oleh perempuan sebagai sesuatu yang tidak serius. Keempat, asking question. Dalam hal ini, perempuan selalu memberikan pertanyaan pertanyaan detail terhadap satu hal. Selain itu, perempuan juga selalu menggunakan question tag untuk memastikan bahwa yang ia katakan mendapat persetujuan. Kelima, conflict. Laki-laki lebih tidak mempermasalahkan hadirnya konflik dalam sebuah interaksi, tetapi bagi perempuan, konflik berarti ancaman bagi sebuah hubungan.

Ilustrasi lebih konkrit juga misalnya ditulis oleh (Mulyana 2009). Ia mengilustrasikan bahwa bangsa yang sama-sama berbahasa Inggris kadang-kadang belum tentu dapat saling memahami. Kendala bahasa dapat terjadi antara dua negara yang berbahasa sama. Perempuan inggris yang baru pindah ke Amerika bisa jadi akan merasa tidak nyaman dengan kebiasaan orang Amerika yang menyapa dengan “Hi How Are You?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya hanya untuk mengakui kehadiran orang lain dan tidak membutuhkan jawaban terus terang dari orang yang ditanyakan. Lebih lanjut, perbedaan bahasa ini juga terjadi misalnya pada mahasiswa mahasiswa yang belajar di Jepang. Dalam berbahasa, mereka ragu apakah harus menyapa Profesor dengan nama awalnya atau tidak, karena di Jepang, adalah suatu hal yang tabu ketika memanggil profesor perempuan dengan nama awal mereka.

Selanjutnya, ilustrasi genderlect style juga dapat kita amati misalnya dalam sebuah organisasi. Genderlect style menekankan pada cara seseorang menyampaikan sesuatu, bukan pada apa yang disampaikannya. Laki-laki dan perempuan memiliki bahasa dan style yang berbeda, dalam sebuah organisasi, dapat diamati bahwa perempuan lebih menyenangi penjelasan yang lebih detail dibandingkan dengan laki-laki. 

Penulis pernah mengalaminya langsung saat diberi tanggungjawab menjadi koordinator dalam sebuah kepanitiaan. Ada salah satu anggota divisi, laki-laki, yang tidak sempat penghadiri rapat perdana kepanitiaan tersebut. Sebagai koordinator maka penulis berinisiatif untuk bertemu secara personal dengan beliau agar tidak terjadi miss informasi dalam pembagian kerja. Yang menarik adalah, ditengah-tengah penjelasan konteks acara yang sedang dipaparkan, beliau segera memotong pembicaraan dan menanyakan tugas apa yang harus beliau kerjakan. Hal tersebut sangat jelas merupakan perbedaan gaya komunikasi antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan berorientasi pada hubungan sementara laki-laki berorientasi pada status sehingga langsung bertanya pada inti pekerjaan yang harus dia lakukan.  
Share:

Teori Biological Constraint

Teori Biological Constraint (Sumber: Littlejohn dan Foss 2009, Lindsey 2015; Mulyana 2009)

Biological contraint merupakan teori yang memandang bahwa perbedaan individu antara laki laki dan perempuan didasarkan pada sistem neurobiological yang berbeda. Atau dengan kata lain, perbedaan menurut teori ini didasarkan pada hal yang bersifat bilogis dan genetis seperti sex atau hormon. Perbedaan bilogis tersebut pada akhirnya menyebabkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan merambah pada hal hal lain seperti fungsi sosial, ataupun pengalaman individu individu tersebut (Lindsey 2015).

Margaret Mead adalah salah satu ahli dengan fokus kajian perbedaan sex atau jenis kelamin yang menyebabkan perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan. Mead memiliki pengalaman ketika ia tinggal bersama tiga suku sekaligus di New Guinea. Hal penting yang ia dapatkan dari pengalaman tersebut adalah perempuan dan laki-laki melakukan aktivitas  yang sama seperti berkebun, berburu, ataupun merawat anak dan keluarga. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa anak anak yang tumbuh dan berkembang dengan lingkungan yang demikian akan tumbuh menjadi anak yang kooperatif dan memiliki respon positif terhadap keluarganya (Lindsey 2015).

Berkaitan dengan paradigma biologis, (Littlejohn 2009) menambahkan bahwa ada beberapa poin yang menjadi catatan dari paradigma ini. (1) Bahwa keseluruhan proses mental yang terjadi dalam interaksi sosial adalah akibat dari aktivitas otak. (2) Sifat dan karakter komunikator yang tempramen merupakan representasi dari sebuah fungsi saraf saraf biologis. (3) Perbedaan individu dalam sistem saraf biologis adalah hal yang penting untuk diperhatikan tetapi tidak menjadi sesuatu yang mendasar. (4) Dimensi-dimensi situasi hanyalah efek ringan dalam sikap individu.

(Mulyana 2009) menambahkan bahwa secara fisik perempuan dan laki laki adalah berbeda. Hal itu bisa diamati sejak masa kelahiran. Bayi laki-laki lebih berat daripada bayi perempuan. Perempuan juga memiliki tonjolan disekitar tubuhnya dibandingkan dengan laki-laki. Tubuh laki-laki lebih banyak memiliki kadar air, yakni 60-70%, sementara tubuh wanita hanya 50-60%. Itu sebabnya laki-laki lebih mampu mencairkan minuman keras dan menunda pengaruhnya. Soal lemak, perempuan memiliki jaringan yang lebih besar, sekitar 25%, sedangkan laki-laki berjumlah 15%. Hal tersebut memudahkan perempuan untuk berenang hanya dengan sedikit usaha. Hanya 5 % penderita encok adalah perempuan. Perempuan berusia lebih lama di hampir semua negara di dunia. Perempuan dan laki laki memiliki perbedaan secara bilogis dan juga struktur otak. Secara biologis, laki-laki lebih agresif karena adanya hormon testosteron, sementara struktur otak yang berbeda membuat perempuan lebih unggul dalam hal komunikasi verbal. Pada akhirnya, akibat adanya perbedaan biologis tersebut, perempuan memiliki sifat merawat dan mengasuh. 
Share:

Teori Muted Communication

Teori Muted Communciation (Sumber: Griffin 2009)

Salah satu ahli yang fokus dalam teori ini adalah Cheris Kramarae yang menyatakan dan mempertahankan bahwa bahasa adalah hasil konstruksi laki-laki. Berdasarkan premis Cheris Kramarae diatas, dapat dikatakan bahwa bahasa perempuan adalah sesuatu yang diabaikan dalam masyarakat, atau dengan kata lain, bahasa perempuan adalah sesuatu yang tidak bernilai. Ketika perempuan mencoba mengatasi ketimpangan tersebut, kontrol komunikasi laki-laki pada akhirnya menempatkan perempuan pada tempat yang sangat tidak diharapkan. Perempuan menurut teori ini adalah kelompok yang diredam, atau dibungkam. 

Lebih lanjut, sebuah survey singkat dilakukan terkait penggunaan seni kartun, bahwa dari sejumlah 52 kartun, hanya ada 20 kartun berkarakter perempuan, selebihnya adalah kartun berkarakter laki-laki. Tipe dominasi laki-laki ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cara untuk menunjukkan bahwa perempuan tidak bernilai dalam masyarakat. Selama kurang lebih 25 tahun, Cheris Kramarae memimpin upaya untuk menjelaskan dan mengubah status pembungkaman perempuan. 

Kelompok Terbungkam: Sebuah Black Hole dibelahan Dunia. Pada dasarnya, pendapat bahwa perempuan adalah kelompok yang dibungkam pertama kali disampaikan oleh sosiolog Oxford University, Edwin Ardener. Ia mengatakan bahwa ketidakpedulian terhadap pengalaman perempuan adalah sebuah masalah gender dalam sosial antropologi. Selanjutnya, Ardener mulai menyadari bahwa kebungkaman kaum perempuan terjadi karena kurangnya kekuasaan. Ardener menyatakan bahwa muted communication tidaklah selamanya berarti silent atau diam. Intinya adalah, apakah orang orang dapat mengatakan apa yang mereka ingin katakan kapan dan dimana mereka ingin mengatakan hal itu, dengan kata lain mereka juga perlu menafsirkan kembali atau reencode pikiran-pikiran mereka agar mereka mengerti. Ardener menambahkan bahwa apa yang dimiliki laki-laki untuk dapat berbicara secara langsung dan mengekspresikan diri diruang publik adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh perempuan. 

Kuasa Maskulin untuk Menamai Pengalaman. Kramarae memulai teorinya dengan asumsi bahwa perempuan memandang dunia secara berbeda dari laki-laki karena adanya perbedaan pengalaman dan aktivitas yang berasal dari pembagian kerja. Kramarae memastikan bahwa perbedaan kekuasaan antara jenis kelamin menyebabkan perempuan melihat dunia secara berbeda dari laki-laki. Seringkali pengalaman perempuan diungkapkan setelah terlebih dahulu melewati sensor laki-laki. Padahal, saling pengertian akan terbentuk jika dilakukan diskusi lebih lanjut. Laki-laki lebih dominan karena dominasi politik yang pada akhirnya membungkam kebebasan perempuan.

Laki-laki Adalah Gatekeepers Komunikasi. Kramarae melihat bahwa tradisional mainstream adalah ekspresi dari komunikasi yang malestream, artinya, laki-laki adalah gatekeepers atau penentu sesuatu yang pada akhirnya menjadi mainstream di masyarakat. Ia melihat fakta, bahwa perempuan tidak mendapat tempat dalam industri puisi, film, dan lain sebagainya. Salah satu contoh bahwa laki-laki memiliki kontrol dalam rekam jejak publik terlihat dari cerita yang disampaikan Kramarae tentang pilihannya untuk mengganti namanya ketika ia menikah di Ohio yang mengharuskan perempuan mengganti namanya dengan menyematkan nama suaminya. Saat itu Kramarae harus mengganti nama dari Cheris Kramarae menjadi Cheris Rae Kramer. Ketika aturan berganti dan dibolehkannya perempuan yang telah menikah memiliki nama aslinya sendiri, Kramarae kembali mengganti namanya meski banyak dipertanyakan oleh orang orang disekitarnya. Menanggapi hal tersebut Kramarae menjawab bahwa penggunaan nama suami dalam nama perempuan yang telah menikah adalah sebuah pengistimewaan yang berlebihan kepada laki-laki.

The Unfulfilled Promise of The Internet. Kita mungkin berasumsi bahwa kemunculan internet telah merubah realitas dan pandangan terkait laki-laki sebagai penentu sesuatu yang mainstream. Kramarae mengatakan bahwa itu tidak terjadi. Ada beberapa kiasan yang dapat diperhatikan untuk memahami hal tersebut. Pertama, informasi superhighway, bahwa sulit bagi perempuan untuk mengakses pelayanan internet. Bagi perempuan, informasi yang ada di internet hanya didesain untuk kepentingan laki-laki semata. Kedua, New Frontier, bahwa perempuan menjadi pihak yang harus berhati hati dalam penggunaan teknologi internet, dari segi keamanan misalnya, kadang-kadang perempuan harus menggunakan identitas sebagai laki-laki untuk mendapatkan keamanan berinternet. Ketiga, demokrasi. Dalam hal ini, perempuan menjadi pihak yang diuntungkan karena dapat memberikan komentar dan tanggapan atas sebuah ide diinternet dengan akun anonim yang tidak akan mengganggu rasa aman dari para perempuan. Keempat, komunitas global, bahwa melalui internet perempuan dapat terkoneksi dan berbagai pengalaman dengan orang lain diseluruh dunia. Koneksi global tercipta, komunitas global terbentuk, tetapi laki-laki justru memanfaatkan hal tersebut dengan membuat situs khusus perempuan agar mendapat kepercayaan dari perempuan.

Kebenaran Perempuan dalam Dunia Laki-Laki. Terkait hal ini, Kramarae mengatakan bahwa perempuan harus berbicara dalam bahasa kedua. Artinya, dalam rangka mendapatkan tempat untuk partisipasi sosial, perempuan harus menggunakan model percakapan/bahasa laki-laki agar dapat dipahami oleh sosial itu sendiri. “Like speaking in a second language”. Hal ini menuntut sebuah upaya yang konstan dari perempuan agar apa yang dikatakan dapat dimengerti sesuai dengan makna yang diinginkan oleh perempuan itu sendiri.

Speaking Out in Privat; Networking With Women. Kramarae menyatakan bahwa perempuan selalu mencari cara untuk mengekspresikan diri mereka kepada publik yang didominasi oleh laki-laki, baik melalui komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal. Kramarae mencatat, beberapa hal yang biasanya digunakan perempuan untuk mengekspresikan dirinya adalah melalui diari, surat, gossip, puisi, dongeng, ataupun lagu. 

Speaking Out in Public: A Feminist Dictionary. Seperti konsep lain dari teori kritis, teori feminis tidak dimaksudkan untuk menentang keuasaan. Tujuan utama dari teori muted communication ini adalah untuk merubah pola atau sistem bahasa laki-laki yang menempatkan perempuan “in their place” atau memposisikan perempuan hanya berjalan ditempat saja. Kramarae menilai bahwa perlu dilakukan pendokumentasian bahasa yang berpihak kepada perempuan. Misalnya dengan menerbitkan kompilasi kamus feminis yang menawarkan definisi kata-kata yang berkaitan dengan perempuan. 

Pelecehan seksual, sebuah labeling. Kramarae mengatakan bahwa pelecehan seksual sudah merajalela tetapi tidak terjadi secara acak. Pelecehan seksual terjadi karena perempuan tidak memiliki kuasa. Kramarae memberi contoh seorang mahasiwi yang menjadi korban pelecehan seksual oleh orang yang berpengaruh di fakultasnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika ia meminta klarifikasi kepada profesor di fakultas tersebut, profesornya mengalihkan percakapan dengan mengatakan bahwa perempuan tersebut adalah mahasiswa yang tidak profesional dalam tugas dan pekerjaan yang diberikan sang Profesor. Sebagai korban, perempuan tersebut pada akhirnya mengalami kebingungan atas apa yang dialaminya. Muted Communication Theory melihat secara lebih detail apa alasan kebingungan perempuan tersebut, kemudian membahasakannya kepada masyarakat agar mudah dimengerti.

Kritik Teori Muted Communication. Para pakar feminis berpikir bahwa kunci-kunci komunikasi seperti ritual ritual, metafora metafora, dan juga kisah kisah perempuan adalah sebuah hal penting yang dapat menjadi data dalam penelitian. Dalam teori Muted Communication, Kramarae mengklaim bahwa kekuasaan adalah hal yang paling penting dalam hubungan antar manusia. Selanjutnya, bahwa kekuasaan berimplikasi pada kontrol laki-laki terhadap perempuan. Asumsi ini mendapat tanggapan dari Deborah Tannen yang mengkritik premis bahwa laki-laki berusaha mengontrol kaum perempuan.

Menurut Tannen, permasalahan utama dalam perbedaan gaya komunikasi laki laki dan perempuan yang kadang-kadang menimbulkan ketidaksetaraan adalah terletak pada perbedaan laki-laki dan perempuan itu sendiri. Artinya, tidak ada alasan yang dapat digunakan untuk menyalahkan kekuasaan, jabatan, atau apapun karena tidak bisa dipungkiri, banyak hal yang ternyata melalui kekuasaan atau jabatan tersebut justru mensupport prinsip prinsip gender, ras atau hak asasi manusia lainnya. Respon kita terhadap teori muted communication akan sangat bergantung pada apakah kita mendapatkan manfaat atau tidak.

Ilustrasi. Ketika memahami teori muted communication, penulis teringat salah satu kasus yang pernah terjadi di masyarakat adat daerah Yogyakarta. Bahwa ketika terjadi kekerasan seksual di desa tersebut, adat yang digunakan adalah adat masyarakat setempat yang tidak perlu diproses ke ranah hukum. Pengalaman penulis dalam sebuah penelitian mengungkap suatu fakta bahwa muted communication memang benar benar terjadi. Seorang perempuan korban kekerasan seksual pada akhirnya tidak dapat berbuat apa apa dan tidak dapat meminta pertanggungjawaban atas apa yang dialaminya karena adat masyarakat setempat tidak memandang perihal kekerasan seksual sebagai sesuatu yang melanggar hukum.

Sebut saja A. Seorang remaja berusia belasan yang menjadi korban perkosaan oleh tetangganya. Karena tidak memiliki kekuasaan, perempuan tersebut harus menerima dengan legowo ketika kasus yang menimpanya berhenti sampai pada urusan keluarga saja. Bentuk penyelesaian kasus tersebut adalah dengan ganti rugi dengan sejumlah uang. Ketika penulis mewawancarai perempuan korban ini, ia mengatakan bahwa pada dasarnya ia dan keluarganya ingin melanjutkan perkara tersebut pada ranah hukum, tetapi tokoh adat dan tetuah masyarakat setempat mengatakan bahwa kasus perkosaan oleh sesama warga didesa tersebut tidak perlu dilaporkan karena akan merusak nama baik desa itu sendiri. Melihat fakta demikian, penulis pada akhirnya menyadari bahwa muted communication benar benar terjadi di masyarakat. Perempuan dibungkam karena ia tidak memiliki kuasa, bahkan atas dirinya sendiri.
Share:

Teori Silent Communication

Teori Silent Communication (Sumber: Griffin 2009)

Teori silent communication dapat disebut dengan teori spiral of silence. Teori ini digagas oleh Elisabeth Noelle Neumann. Ia mengklaim bahwa apa yang menjadi pilihan politik seseorang akan sangat berkaitan erat dengan indikator kemungkinan yang akan terjadi dalam waktu dekat. Teori spiral of silence adalah teori yang menjelaskan tentang perkembangan dan penyebaran opini publik. Pada intinya, konsep spiral of silence menyatakan bahwa orang orang akan merasa tertekan ketika mereka berpikir bahwa mereka berada pada kelompok minoritas.

Beberapa poin penting dalam teori ini. PertamaA Quasi Statistical Organ Sensing The Climate Of Opinion, bahwa sebuah angka statistik akan mempengaruhi puncak opini. Elisabeth Noelle Neumann sangat kagum dengan upaya orang orang untuk melihat puncak opini publik. A Quasi Statistical Organ Sensing The Climate Of Opinion adalah sixth sense atau sebuah kekuatan memprediksi tentang apa yang dipikirkan oleh publik secara umum. Nilai statistik dalam hal ini adalah sesuatu yang mempengaruhi opini publik.

Kedua; Ketakutan akan terisolasi. Poin ini menyatakan bahwa meskipun seseorang berada pada posisi opini yang berbeda, tetapi ia akan mengikuti opini kelompok mayoritas. Hal ini dilakukan agar ia tidak terisolasi dari lingkungannya.

Ketiga; Ada saat bicara, ada saatnya diam. Karena orang-orang menjelaskan bahwa pilihan mereka untuk diam merupakan sebuah upaya untuk mencegah terisolasinya mereka dari lingkungan, maka Neumann menyatakan bahwa individu yang mengetahui bahwa opini mereka mulai menyebar satu persatu akan memilih untuk menyebarkan opininya sendiri. Sementara bagi individu yang merasa bahwa pendapatnya hanya diketahui oleh dirinya sendiri akan memilih menyimpan opini tersebut dalam dirinya dan memilih diam. Dalam artian, individu memiliki alasan tersendiri, kapan mereka harus diam atau kapan mereka harus menyuarakan opininya.

Selanjutnya, posisi individu dalam penyebaran spiral of silence. Konsep spiral of silence menggambarkan bahwa kaum minoritas yang memilih diam berada pada urutan terbawah. Kelompok-kelompok yang berada pada spiral paling bawah adalah kelompok-kelompok atau individu yang memiliki ketakutan terisolasi dari lingkungannya. 

Berikutnya adalah kritik terhadap teori spiral of silence. Beberapa premis dari teori spiral of silence mendapat tanggapan dari akademisi. Salah satunya tanggapan terkait asumsi bahwa ketakutan terisoloasi menjadi alasan seseorang memilih untuk diam adalah sebuah asumsi yang didasarkan pada ketakutan individu terhadap isolasi itu sendiri, dan belum merupakan asumsi yang dibangun berdasarkan hasil survey intensif pada pertanyaan perbandingan bagaimana perasaan individu tersebut pada saat ia diam dan pada saat ia memilih untuk bersuara. Artinya, asumsi spiral of silence masih perlu diuji lagi dengan melakukan perbandingan antara keadaan individu saat memilih untuk diam seperti apa, lalu saat individu tersebut memilih untuk menyuarakan opininya seperti apa.

Ilustrasi. Agar lebih memahami teori ini, penulis memberikan sedikit ilustrasi. Salah satu fakta yang pernah penulis alami langsung adalah ketika terlibat dalam gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta. Jika dibandingkan pada masa dahulu, yang jauh sebelum hari ini, tingkat pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan dilingkungan tempat penulis bekerja sangatlah jauh berbeda. Tahun-tahun belakangan tercatat lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. 

Terkait hal diatas, ada dua asumsi yang dapat menjelaskan maraknya pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta tersebut. Pertama bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan semakin bertambah, atau kedua bahwa pada dasarnya jumlah kasusnya tidak berubah, yang berubah adalah karakter masyarakat yang mulai keluar dari kebisuan yang selama ini dilakukan. Jika dulu, seorang perempuan memilih untuk menyimpan kesakitannya sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga, maka saat ini kebisuan itu mulai terurai satu persatu sehingga sikap untuk menyuarakan opini individu yang selama ini dipendam mulai muncul ke permukaan.

Data kasus kekerasan menunjukkan bahwa tingkat pengaduan terkait kekerasan terhadap perempuan semakin hari semakin bertambah. Jika menggunakan asumsi kedua yang telah penulis sampaikan sebelumnya, bahwa kemungkinan semakin maraknya pelaporan tersebut disebabkan bahwa adanya opini yang dulunya terpendam yang saat ini muncul ke permukaan. Hal ini dikarenakan salah satunya oleh perihal kekerasan terhadap perempuan dulunya dianggap sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Tak hanya itu, perempuan korban kekerasan dan masyarakat pada umumnya mengagap bahwa tindak kekerasan terhadap perempuan adalah sebuah aib yang harus ditutupi agar perempuan korban tersebut tidak disisihkan atau dikucilkan dari lingkungannya. Artinya, fenomena ini dapat dijelaskan dengan teori spiral of sience. 

Asumsi selanjutnya bahwa individu atau kelompok yang termasuk dalam spiral of silence ini pada dasarnya mempunyai pilihan kapan mereka harus diam dan kapan mereka harus bicara. Dalam kasus kekerasan yang telah penulis paparkan, tindakan melaporkan kasus kekerasan yang terlihat dari data statistik tersebut merupakan sebuah upaya untuk menyuarakan opini yang bisa saja selama ini telah terpendam. Bisa jadi bahwa individu korban kekerasan yang dulunya menjadi minoritas dan terisolasi dari lingkungan telah merasa bahwa sudah saatnya mereka melaporkan atau mengatakan apa yang selama ini mereka rasakan. 
Share:

Featured Post

Teori Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana sebuah perubahan sosial terjadi dalam masyarakat. (Rogers 1983) mencerita...